Sabtu, 04 April 2015

Jev Indra Delcandrevidezh

FIREARMS By: Jev Indra Delcandrevidezh Maybe it is common knowledge, whose name traffic police famous cheated and venal everywhere. For the value of violation of road users, offering enough money 5000 rupiahs only, we could be free (first, whether now). Asked the usual, "Sorry to interrupt your trip. Can I see the letters of your vehicle and driver's license?" But, after a complete still asking, "Do you know what the mistake?" Not crazy anyway? People would normally not be guilty confess. They will say, "Well, even though the letters supplies complete drive, but you have violated traffic rules that blah blah blah ...." Sunday morning. I have been driving with complete requirements and do not break the rules, but my car was being chased by a police car containing two mens. Due to chance rather quiet street, I stepped on the accelerator more powerful in order to travel faster. But there is a police car sirens, and looked lightning-flash of light around the streets of strobe lights behind, approach and blew the whistle for me to stop. I panicked. Whether because I'm carrying a firearm in the car? I do not want to deal with them. I step on the gas firmer, preceded them, but continued after. I grew speeding at full speed, but continue to be pursued. The streets cornering, because almost hit roadblock, forced to reduce speed. Because braking, police car almost can follow. I was pacing back faster. Whistle is blown back. I do not care about it! After a few minutes take place, I had to stop at an intersection because trafficlight changed in to red. A uniformed police officer got out of his car and walked over. I tried to remain calm. After the salute, knock my car window, I let it, but he knocked again. I down the glass slowly. "Sorry! Can I look at the letters of your vehicle?" "These are the letters, Sir. Sorry, if I always complete document drive, Sir." "Okay," he said, handing back the letters, "but do you know your fault?" added back. "I think that has been driving it right, Sir. What is it? How come I was chased like criminals?" "What's that on your dashboard? I have seen it when you passed near post. You seem to carry a gun, and it was kind of prohibited firearms to be held without permission. Do you have a permit?" "No, Sir!" "And if it's without a license, then you will be dealing with the law. Now, pull your car!" I was marginalized as directed by a police car, right behind the official car red white and blue complete with strobe lights on it that is still left on flashing. "Go down!" "All right, Sir." The police then took the gun from the car that I place it near a tissue box. Held firearms carefully, then the police contacted his colleagues through handytalky. Before other officers arrived, a policeman who had been only in his car, eventually down and approached me. A policeman big tall with dark skin and a mustache that is more terrible than me, walked over. To overcome nervousness, I pulled out a pack of Marlboro from my jacket pocket. Grab a piece and stuck it in the mouth. I approached the policeman who was holding his ears handytalky. "Sir! Sorry, Sir!" "WHAT'S UP!!!" he snapped. "My matches, Sir. I want to smoke." "Ough! So, this is a gun-shaped lighters, huh? I guess the real," he said as he tried to turn it on. Police mustache and big tall noticed my face and asked. "I think, I know you. Aren't you called Master Limbad?" "No, Sir. Just like him. I'm Jevindra." Hearing the name of "Jevindra", shocked and asked the police first. "He is Jevindra MantraMantraCinta, isn't he?" "Yes, gentlemen." "Rock On! Recommend Grandpa Jev! I am Tarjo, Captain Sutarjo, your poems fan, Grandpa. And he is co-workers, his name is Nurdin. Mr. Nurdin Mustache. Why didn't say so?" "I wanna buy your VCD, Grandpa," said Mr. Nurdin. "Incidentally, Grandpa. I also wanna buy it," said Captain Sutarjo. "Well, Gentlemen Honorable Police. Since I didn't bring the VCD, also was in a hurry, please inbox me!" "Okay!!!" they chorused. === THE END === :v



from http://ift.tt/1D4316M

Imas Atik

Inbok Bikin Kapok Semenjak di beri hape android sebagai hadiah juara kelas, Bella malah makin sering menghabiskan waktu bersama gawai terbarunya. Sambil makan, pencat-pencet hape. Tiduran, colek-colek hape. Hape dulu, hape lagi, hape terus."OL bang" begitu jawabnya tiap di tanya sedang apa. Dan yang lebih aneh lagi, tiap mau makan, bukannya do'a dulu, eh malah ambil hape. Jepret! Difoto dah tuh hidangan. Seringnya fotoin mie bakso, mie ayam dan sebangsanya. Fotoin menu sayur kacang kagak pernah. Satu lagi yang membuat Bang Nasir kesel, mangkel alias gemes, Bella jadi susah kalau di suruh cepet tidur. OL sampai tengah malam. Ada aja alasannya. Bikin Bang Nasir capek ngebilanginnya. "Gak boleh di biarin tuh anak. Kirain di kasi hape bakal makin tekun belajarnya, eh ini malah anteng maya-mayaan." Gerutu Bang Nasir. "Iya, jadi malas pula kalo di suruh bantuin ibu. Piring bekas makannya ditinggal gitu aja di meja, biasanya langsung di cuciin. Abang sih ngasih hadiah mahal-mahal tapi malah bikin Bella lupa aturan," timpal ibu. "Iya bu, maaf. Biar Abang cari cara buat ngatasinnya" balas Bang Nasir. Klik! Tiba-tiba mati lampu di susul jeritan Bella dari dalam kamar. Bella memang penakut. Tiba-tiba saja Bang Nasir nemu ide buat ngerjain Bella. ---- Esok malamnya, ketika Bella tengah asyik ber-FB, -dek, tolong buka inbox dari abang- tulis Bang Nasir di wall Bella. "Inbox apaan ya Bang Nasir?." Penasaran Bella langsung menuju kolom pesan. Terdapat sebuah link. Tanpa ragu Bella langsung meng-kliknya. Sreet.... Bakekok! Tampak gambar pocong sedang melotot ke arahnya. "Hwaaa!" Bella langsung membanting hapenya. Ia langsung lari keluar kamar. "Kenapa Bell?" Bang Nasir cekikikan di ruang tengah. "Abang apa-apaan sih?!" "Besok malam kalau masih susah di bilangin, Abang kirim lagi gambar pocong yang banyak. Ya?!" "Jangan bang. Bella takut. Bella kapok deh bang!" tangis Bella.



from http://ift.tt/1D432YD

Mpus Penebar Cinta

#Event_April #2 Oleh:Mpus Ganteng Pucuk Cinta Nissa Azzahra Putaran takdir terus bergulir Seiring bibir sumbing mencibir Pantaskah aku terus memikir Seorang gadis didalam cangkir Bayangmu menari dipahitnya kopi Setiap kureguk teringat pipi Laksana bakpau yang kucicipi Pernah kucium walau didalam mimpi Kuutuskan rinduku bersama kepul rokok sebatang Terbang membentuk Love sayang Walaupun boleh ngutang Yang penting dikau hadir membayang Samudera memang memisahkan kita Benua kita berbeda Namun aku tetap setia Diantara pelukan wanita Nissa, Janganlah kau berselingkuh disana Biarlah aku yang melakukannya Karena kalau ketauan rusak segalanya Cinta yang selama ini kita bina.. Krwg,030415



from http://ift.tt/1yLgScV

Azelia Putri Rukmana Dewi

Ritual Pembuka Aura Oleh : Azel prd Braak. "Ma-Mama. Minta uang!" "Makan dulu. Baru juga pulang, emang buat apaan?" "Aalah. Mama enggak perlu tau!" "Mama enggak akan ngasih uangnya kalau kamu enggak mau ngasih tau!" "Iya. Aku pengen buka aura. Aku kan udah hampir 25 tahun. Tapi sampai saat ini jangankan nikah, punya pacar juga enggak." "Dengerin mama. Kamu itu enggak usah khawatir, tau kenapa? Karena jodoh itu udah ada yang ngatur." "Udahlah. Jangan dakhwah terus! Mama mau ngasih enggak?" "Kalau buat beli baju baru mama kasih, kalau buat itu ...." "Dasar pelit!" Braak! Rara pergi. Bingung. Apa yang harus kulakukan? Semakin dilarang Rara bakal semakin berontak. Tapi semua tak bisa kuamini karena apa yang dilakukannya juga salah. Ya Rabb. Beri hambaMu ini petunjuk! Apa ... yang harus kuperbuat? Indri. Hanya dia yang bisa menolongku. Kuhampiri Rara di kamarnya. "Ra, udah tidur belum? Boleh mama masuk." "Masuk aja," jawabnya ketus. "Ra. Kamu pengen buka aura kan? Mama punya temen yang bisa bukain aura kamu." "Aalah. Mama bohong kan?" "Enggak. Rara inget enggak sama Tante Indri? Rara tau. Tante Indri kan jago buka aura." "Serius Ma. Mauuu!" "Ya udah. Besok kita ke sana! Sekarang Rara salat dulu baru tidur." "Ya. Ma!" Keesokan harinya. "Ma. Ayo!" "Iya. Bentar." Ku jalankan motor ini cepat-cepat. Bagaimana tidak, Rara nyerocos terus enggak karuan pengen cepet-cepet sampai. Tidak sampai satu jam kami sampai ke rumahnya, kulihat raut bahagia di wajah putri semata wayangku. Kulihat Indri duduk di teras rumahnya. "Assalamualaikum." "Walaikumsallam. Masuk Ta! Oalah ... ini Rara ya, cantik." "Makasih Tante." "Ayo duduk. Mau minum apa?" "Enggak usah Tan. Mendingan langsung aja." "Syuut. Enggak sopan! Sabar Ra, kita baru aja nyampe." "Enggak apa-apa Ta. Kalau begitu ayo masuk! Coba rileks, tiduran aja." Kulihat Indri memijit wajah Rara penuh kelembutan, pijitan, masker lalu tenaga dalam ia lakukan. Bau harum keluar dari tubuh Rara menandakan Auranya yang mulai keluar. Rara terbangun, wajahnya sumringah penuh kebahagiaan. Ritual telah selesai dilakukan. Kami berdua pamit pulang, tak lupa ia berpesan agar senantiasa puasa senin-kamis. Rara melakukan semuanya. Salat puasa ia lakukan, waktu berlalu tanpa terasa. Hari yang di nanti kini telah tiba. Rara putriku akan menikah. Kulilitkan baju pengantin ke tubuh mungilnya, sambil sedikit membuka rahasia. "Ra. Kamu tau ini bisa terjadi karena apa?" "Iya dong Ma. Karena Tante Indri!" "Kamu salah Ra. Tante Indri hanya memberikan energi positif padamu selebihnya itu karena kamu sendiri." "Maksud Mama?" "Ra. Puasa yang kamu lakukan setiap hari senin kamis itulah yang membuatmu mendapatkan jodoh." "Maksudnya?" "Mama dan Tante Indri berusaha mengajarkan bahwa bukan dengan buka Aura kamu mendapatkan jodoh, tapi karena puasa dan salat yang kamu lakukan dengan khusyu, sehingga Alloh memberimu kemudahan. Dengar mama sayang, hidup mati jodoh rezeki itu semua sudah Alloh atur jadi jangan sampai berpikir yang macam-macam. Lihat! Buktinya sekarang kamu menikah." "Ma. Maafin Rara ... huhuhu." "Bukan sama mama, tapi sama Alloh. Sekarang hapus air matamu, nanti bedaknya luntur." "Ya. Ma!" Kuantarkan Rara menuju pelaminan. Aku bahagia. Bukan hanya karena Rara menikah, tapi karena kini ia mengerti bahwa jodoh bukan didapatkan dengan membuka aura tapi dengan salat dan puasa. The end. Bandung 040415



from http://ift.tt/1yLgRWy

Ramadani Ann Al-Qohirohiyyah

#Event_Karyaku Another Cindergkrela Story (Kacau Balau) Oleh : Ramadani Ann Al-Qohirohiyyah Selama beberapa tahun terlewati, tidak ada yang spesial. Hidup seadanya, tidak ada yang luar biasa. Semua menantikan kisah "Another Cindergakrela Story-Series" yang tidak pernah muncul di rubrik laman Komunitas Bisa Menulis sebuah Negeri yang penduduknya sendiri merupakan para penulis hebat. Hebat menyindir, mengeluh, menyolot satu sama lain, melawak, mencari teman maupun lawan. Termasuk penulis yang telah menulis tulisan ini, hebat karena telah memancing keributan, menjual kompor gas, dan tentu saja hebat merumput. (Sedang mengunyah rumput) •••• "Kemana perginya anak-anakku?" Tanya Momi Mis Anisa. "Hadir ..., Momi!" Jawab Anna Anabelle. "Hadir juga ..., Momi!" Ujar Likta Lupita. "Yihaaa ..., ciyeee Momi kangen akyu!!!" Seru Ijah Zahrana. Keluarga bahagia ini kemudian saling berpelukan. Masih ingat kan, mereka berpelukan seperti apa. "Sayang, Honey Bunny Sweety ..." Panggil Momi Mis Anisa. "Iyaaa ..., Momi!" Jawab mereka serempak. Siang itu, Momi berkata bahwa ia telah menemukan sebuah sarung misteri di teras rumahnya yang kinclong. Seseorang telah meletakannya di depan pintu. Hingga hampir saja Sang Momi terjatuh, ketika tiba-tiba ingin membuka pintu dan tergesa-gesa berjalan ke luar. Namun, dengan cepat ia menahan keseimbangan tubuhnya, sehingga tidak jadi jatuh tersungkur. "Kalian bertiga harus menemukan pemilik sarung tersebut!" Perintah Momi yang sedang mengemil gorengan di depan layar televisi. "Ogah ..., males ah, Mom!" Ujar Likta. "Akyu males juga, Mom. Mendingan mikirin Bee." Jawab Ijah yang sedang mengintip celengan ayamnya. "Aku mikir dulu ya, Mom. Setahun lagi aku kasih jawabannya, antara mau ikutan bilang males atau menuruti perintah Momi." Jawab Ann dengan tampang tak berdosa. "Huwaaaa ...!" (Gubrakk) •••• Akhirnya Anna yang menuruti perintah Momi untuk mencari pemilik sarung tersebut. Menggunakan bulu mata anti badai yang lebat dan rapat, cukup untuk melindungi bagian mata dari panas terik, mata yang akan digunakan untuk menerawang setiap pemuda pada inspeksi mendadak keliling komplek kali ini, berharap dapat bertemu pemiliknya. Anna berjalan dengan riang menelusuri tempat-tempat berkumpulnya pemuda di komplek perumahannya, sesekali melompat, hap ... hap ..., ia teringat masa kecilnya yang menyenangkan. Seorang pemuda yang baru saja berpapasan dengannya hanya menunduk, tidak menyapa. Anna mundur tiga langkah, lalu membalikkan tubuhnya. "Stop! Hayoo ..., kamu gak nyapa aku! Ketahuan kaaan," sapanya pada pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. "Hahh?" Pemuda itu hanya cengar-cengir gak jelas. "Kamu kehilangan sarung ya?" Tanya Anna to the point. "Oalaah, kagak, Neng!" Jawab pemuda yang diketahui bernama Abi Khalid Al Abdillah tersebut. Sambil membawa sekantong batu akik, pemuda itu berjalan meninggalkan gadis yang dikira sableng tersebut. Siang-siang buta menanyakan sarung. ••• Anna kembali berjalan, dan mengunjungi sebuah warung. Kebetulan disitu ada seorang pemuda yang diketahui bernama Arief Siddiq Razaan. "Sssst', kamu kehilangan sarung ya?" Bisiknya pelan pada pemuda yang duduk di sebelahnya itu. "Hahh? Sarung saya lengkap di rumah." Balasnya "Serius? Mungkin kamu lupa." Bisikknya lagi. "Iyalah mana mungkin lupa. Eh, Aku jualan pembalut herbal loh, kamu mau beli?" Bisik pemuda itu pelan. "Pembalut gue di rumah udah banyak, weeek!" Balas Anna, lalu pergi meninggalkannya. •••• Tidak ditemukan satupun pemilik sarung itu, hingga akhirnya ia bertemu seorang pemuda yang mungkin akan menjadi korban terakhir untuk diinterogasinya siang itu. "Hai, apa kabar?" Berbasa-basi pada pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. "Hai, aku baik ..., kamu? Pemuda yang diketahui bernama Richie tersebut kembali menyapanya dengan ramah. "Kamu kehilangan sarung ya?" Tanya Anna to the point. "Hahh?" Richie mengernyitkan dahinya. "Aku tanya, kamu kehilangan sarung?" Tegas Anna. "Iya ..., kok tahu?" Richie berharap gadis itu sedang bergombal, dan menunggu balasan selanjutnya. "Yihaaaa ..., akhirnyaaa!!!!" Anna bersorak bahagia. Berakhir sudah pencarian pemilik sarung tersebut. Setelah ini dia akan memberikan kabar kepada Momi. Anna meninggalkan Richie dengan hati yang riang. "Gak ada sambungannya ya?" Tanya Richie kecewa. •••• Kenapa saya ingin jadi penulis? Karena belum ingin menjadi dokter, kesalahan fatal seorang penulis masih bisa diperbaiki, kalau kesalahan fatal seorang dokter, pasien bisa mati. Dah itu aja. -_- BCG, 3/4/2015 Cc Ulya Fathiya



from http://ift.tt/1GchRuw