KBM ACADEMY 2015 STAGE 1 (ALA PANITIA) Tantangan : Mengubah puisi menjadi cerpen Dusun Oleh ; Jorge De Sena Hidup tercipta dari hal-hal kecil: Dari gunung yang tegak berdiri Yang menanti gerak; Dari ladang gandum berombak Diembus angin; Dari rumah tinggal Yang dicat dengan pertanda; Dari sarang burung yang pernah ada Di tepi atap rumah; Dari debu; Dari bayangan pohon ara; Dari mengamati keajaiban ini : Ayaku merangkai sulur anggur Bak Ibu mengepang rambut anak daranya ------ Jejak-jejak di Dusun Oleh : Wiraswesti Mirzal Aku tidak pernah tahu bahwa ayah seterkenal ini. Hei, sejak kapan dia jadi selebriti? Baru selangkah kakiku menginjak tanah berdebu di susun ini, orang pertama yang kujumpai memandang takjub tak berkedip. Layaknya melihat malaikat turun dari bumi, bibir kakek yang menghitam itu bergerak-gerak cepat. Berbisik lirih mengirim pujian untuk Tuhan. Sementara aku melongo, berdiri kaku dengan tampang bodoh di hadapannya. Dan mulai berpikir, tampaknya ayah tidak salah memaksaku menghabiskan liburan musim panas di sini. Kesan awalnya saja sudah mengejutkan dan menarik. “Paul? Kaukah itu, Paul?” Tangan renta namun kokoh itu meraba pipiku. Kurasakan seperti duri-duri sikat baju menggosok kulitku yang halus. Kakek ini pekerja keras, aku menebak. “Paul kecilku?” ulangnya lagi, bergetar. Kini air mata mengambang di pelupuk mata senjanya. Aku meraih tangan legamnya, lebih untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di pipi. Sentuhannya hangat dan besahabat, tapi tetap saja gesekannya kasar. “Aku Darius, Kakek. Bukan Paul,” jelasku sambil menyium punggung tangannya. Ini ajaran ayah, menunduk sebagai tanda hormat pada orang tua. “Ah, ya ... tentu saja. Paul-ku sudah besar ...,” lirihnya terputus. Kedengarannya sedih sekali. “Bagaimana jika kukatakan kalau aku anak Paul. Apa kau percaya?” Aku menegapkan badan, berkacak pinggang dengan telapak tangan menggenggam pinggang. Lalu aku bersiul menirukan suara burung gereja. Jika Paul yang kami bicarakan adalah orang yang sama, dia pasti paham. Orang tua itu terkekeh, mengangguk-angguk senang. “Khas Paul-ku!” Kemudian dengan genggaman tangan kasarnya, aku dibimbing memasuki dusun lebih dalam. Di kiri kanan jalan tanah kering yang debunya membuat boots-ku memutih, pucuk-pucuk gandum berombak ditiup angin. Indah sekali gerakannya, mirip gelombang air laut yang mengejar bibir pantai. Hamparan gandum menari itu dikawal sebuah gunung. Gunung Shire, aku yakin. Ayah selalu berkata di sini ada gunung penjaga. Gunung tak seberapa tinggi yang diam tegak berdiri namun selalu mengawasi. “Gunung Shire,” kata ayah,”diam-diam menontonmu beraksi. Tidak harus luar biasa, tapi bergeraklah ... lakukan apa yang kau bisa buat agar hidupmu bermanfaat.” Tampaknya semangat itu mengalir kencang di sini. Ladang gandum yang subur ini buktinya. Atau tangan tua si kakek yang kasar hasil tempaan kerja keras bertahun-tahun. “Ayah selalu ingin kembali ke mari,” kataku disela langkah. “Oh, ya.” Kakek di sampingku menerawang. “Dusun ini rumahnya. Tempat ia menancapkan jejak-jejak langkah pertamanya. Bekas itu, Darius ... tidak akan hilang. Bak sebuah tanda permanen yang tanpa sengaja ia buat, sejauh apapun Paul pergi hatinya terpaut ke mari.” Aku mengangguk. “Seperti burung yang tidak pernah lupa kembali pulang ke sarangnya.” “Ah, tidak semua burung balik menetapi sarangnya yang lama. Ada yang ditinggalkan demi kehidupan yang lebih baik. Namun, seperti yang kukatakan tadi, Darius ... sarang burung kosong di tepi atap rumah, di sela-sela pepohonan, menjadi tanda bahwa mereka pernah menjadi bagian di sini.” Kami terus berjalan, semakin dekat ke kaki gunung Shire. Boots-ku benar-benar putih sekarang. Beberapa kali kami berpapasan dengan penduduk. Unik sekali, setiap wanita yang kutemui pasti berambut panjang dengan kepangan rapi dan padat. Mengingatkanku pada ibu yang juga kerap mendandani adik perempuanku demikian. “Ayahmu tentu pernah bercerita tentang tempat favoritnya di sini?” Pertanyaan dari kakek lebih seperti pernyataan. Aku dipandu duduk di bawah pohon yang tampak terpisah dari pepohonan lain di kaki gunung Shire. Batangnya tinggi dengan diameter yang lumayan besar. Sekilas menyerupai beringin, namun yang ini berdaun besar dan lebar. “Di bawah pohon ara!” Kami berseru berbarengan. Ya, ayah sering bercerita tentangnya. “Di bawah bayangan pohon ara kau akan merasakan damai, Darius. Bila rantingnya melembut dan mulai bertunas, kau tahu, musim panas sudah dekat.” Dan senyumku terkembang mendapati tanaman lain yang merambat memanjati ranting pohon ara. Tanaman yang suka berada di tempat rindang. Anggur. “Di sini Paul dengan telaten merangkai sulur anggur, membeliti pohon ara dengan bunga-bunga anggur,” gumam kakek. Ya, aku pernah mendengarnya. Ayah hapal sekali. Jika buah ara muda berubah matang, itu pertanda tanaman anggur akan berbunga. “Sejatinya sulur anggur akan membelit dengan sendirinya. Tapi Paul, ayahmu, berkeras ingin membantu.” Kakek terkekeh. “Itu yang membuatku sangat menyayangi dia, anak itu ... sungguh penolong,” lanjutnya. Aku tersenyum. Tiba-tiba ingin meloncat pulang ke rumah. Berlari memeluk ayah dan mengatakan betapa aku bangga menjadi anaknya. Aku mengerti, segala kemudahan yang kunikmati sekarang, akarnya ada di dusun ini. ********* Ini tidak sempurna, tapi semoga ada pelajaran bagi peserta KBMA. Hee.. sok ah... Boleh dikritik ^_^
from http://ift.tt/1atGwx4
from http://ift.tt/1atGwx4






0 komentar:
Posting Komentar