#Event_Karyaku Another Cindergkrela Story (Kacau Balau) Oleh : Ramadani Ann Al-Qohirohiyyah Selama beberapa tahun terlewati, tidak ada yang spesial. Hidup seadanya, tidak ada yang luar biasa. Semua menantikan kisah "Another Cindergakrela Story-Series" yang tidak pernah muncul di rubrik laman Komunitas Bisa Menulis sebuah Negeri yang penduduknya sendiri merupakan para penulis hebat. Hebat menyindir, mengeluh, menyolot satu sama lain, melawak, mencari teman maupun lawan. Termasuk penulis yang telah menulis tulisan ini, hebat karena telah memancing keributan, menjual kompor gas, dan tentu saja hebat merumput. (Sedang mengunyah rumput) •••• "Kemana perginya anak-anakku?" Tanya Momi Mis Anisa. "Hadir ..., Momi!" Jawab Anna Anabelle. "Hadir juga ..., Momi!" Ujar Likta Lupita. "Yihaaa ..., ciyeee Momi kangen akyu!!!" Seru Ijah Zahrana. Keluarga bahagia ini kemudian saling berpelukan. Masih ingat kan, mereka berpelukan seperti apa. "Sayang, Honey Bunny Sweety ..." Panggil Momi Mis Anisa. "Iyaaa ..., Momi!" Jawab mereka serempak. Siang itu, Momi berkata bahwa ia telah menemukan sebuah sarung misteri di teras rumahnya yang kinclong. Seseorang telah meletakannya di depan pintu. Hingga hampir saja Sang Momi terjatuh, ketika tiba-tiba ingin membuka pintu dan tergesa-gesa berjalan ke luar. Namun, dengan cepat ia menahan keseimbangan tubuhnya, sehingga tidak jadi jatuh tersungkur. "Kalian bertiga harus menemukan pemilik sarung tersebut!" Perintah Momi yang sedang mengemil gorengan di depan layar televisi. "Ogah ..., males ah, Mom!" Ujar Likta. "Akyu males juga, Mom. Mendingan mikirin Bee." Jawab Ijah yang sedang mengintip celengan ayamnya. "Aku mikir dulu ya, Mom. Setahun lagi aku kasih jawabannya, antara mau ikutan bilang males atau menuruti perintah Momi." Jawab Ann dengan tampang tak berdosa. "Huwaaaa ...!" (Gubrakk) •••• Akhirnya Anna yang menuruti perintah Momi untuk mencari pemilik sarung tersebut. Menggunakan bulu mata anti badai yang lebat dan rapat, cukup untuk melindungi bagian mata dari panas terik, mata yang akan digunakan untuk menerawang setiap pemuda pada inspeksi mendadak keliling komplek kali ini, berharap dapat bertemu pemiliknya. Anna berjalan dengan riang menelusuri tempat-tempat berkumpulnya pemuda di komplek perumahannya, sesekali melompat, hap ... hap ..., ia teringat masa kecilnya yang menyenangkan. Seorang pemuda yang baru saja berpapasan dengannya hanya menunduk, tidak menyapa. Anna mundur tiga langkah, lalu membalikkan tubuhnya. "Stop! Hayoo ..., kamu gak nyapa aku! Ketahuan kaaan," sapanya pada pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. "Hahh?" Pemuda itu hanya cengar-cengir gak jelas. "Kamu kehilangan sarung ya?" Tanya Anna to the point. "Oalaah, kagak, Neng!" Jawab pemuda yang diketahui bernama Abi Khalid Al Abdillah tersebut. Sambil membawa sekantong batu akik, pemuda itu berjalan meninggalkan gadis yang dikira sableng tersebut. Siang-siang buta menanyakan sarung. ••• Anna kembali berjalan, dan mengunjungi sebuah warung. Kebetulan disitu ada seorang pemuda yang diketahui bernama Arief Siddiq Razaan. "Sssst', kamu kehilangan sarung ya?" Bisiknya pelan pada pemuda yang duduk di sebelahnya itu. "Hahh? Sarung saya lengkap di rumah." Balasnya "Serius? Mungkin kamu lupa." Bisikknya lagi. "Iyalah mana mungkin lupa. Eh, Aku jualan pembalut herbal loh, kamu mau beli?" Bisik pemuda itu pelan. "Pembalut gue di rumah udah banyak, weeek!" Balas Anna, lalu pergi meninggalkannya. •••• Tidak ditemukan satupun pemilik sarung itu, hingga akhirnya ia bertemu seorang pemuda yang mungkin akan menjadi korban terakhir untuk diinterogasinya siang itu. "Hai, apa kabar?" Berbasa-basi pada pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. "Hai, aku baik ..., kamu? Pemuda yang diketahui bernama Richie tersebut kembali menyapanya dengan ramah. "Kamu kehilangan sarung ya?" Tanya Anna to the point. "Hahh?" Richie mengernyitkan dahinya. "Aku tanya, kamu kehilangan sarung?" Tegas Anna. "Iya ..., kok tahu?" Richie berharap gadis itu sedang bergombal, dan menunggu balasan selanjutnya. "Yihaaaa ..., akhirnyaaa!!!!" Anna bersorak bahagia. Berakhir sudah pencarian pemilik sarung tersebut. Setelah ini dia akan memberikan kabar kepada Momi. Anna meninggalkan Richie dengan hati yang riang. "Gak ada sambungannya ya?" Tanya Richie kecewa. •••• Kenapa saya ingin jadi penulis? Karena belum ingin menjadi dokter, kesalahan fatal seorang penulis masih bisa diperbaiki, kalau kesalahan fatal seorang dokter, pasien bisa mati. Dah itu aja. -_- BCG, 3/4/2015 Cc Ulya Fathiya
from http://ift.tt/1GchRuw
from http://ift.tt/1GchRuw






0 komentar:
Posting Komentar