Iman Aku, Iman Khaeruman, manusia yang selalu dianggap robot. Tak heran, karena aku sangat jarang berbicara. Hidupku sudah terlalu bising dengan harapan dan impian jadi buat apa membuatnya semakin bising dengan berbicara omong kosong. Kawan, kau tau harapan dan impianku itu apa? Hanya ingin menjadi pegawai di kereta api, entah apa, kenek, masinis atau cleaning service, apapun itu, yang penting setiap hari bisa bersama kendaraan tercepat di darat ini. Sahabatpun sering mengolok-olok. Katanya "kau rela menganggur bertahun-tahun hanya demi menunggu lowongan kerja itu yang belum tentu masuk, Padahal kau tahu, gajih di perusahaan kereta api Indonesia tak sebesar di Jepang atau negara lain" tapi ini impian, ini harapan dan ini adalah kecintaan. Karena cinta, orang-orang buta akan surga dan neraka. Sayang, aku hanyalah 'robot' yang masih tidak ingin mengeluarkan puluhan juta rupiah untuk menyogok masuk perusahaan itu. Masih ada banyak orang gila seperti ku yang berangan bekerja disana. Aku tidak ingin menghapus niatnya dengan uang orang tua. Karena aku merasakan bagaimana rasanya, betapa pedihnya, betapa sakitnya. Ya, 7 kali gagal dalam seleksi, kadang aku menyesal selalu bolos sekolah jika ada jadwal pelajaran matematika, pasti karena itu aku gagal atau mungkin juga karena mataku yang sudah rusak oleh kepulan asap knalpot jalanan. Rumahku memang dipinggir jalan. Hingga harapan dan impian itu luntur dibasuh cucuran keringat yang mengalir ketika seleksi. Kini aku hanya kolektor sekaligus penjual tin toys (miniatur) kereta api. Setidaknya masih berhubungan dengan kereta api meski palsu. Entah kenapa aku bisa begitu jatuh cinta pada kendaraan besi hebat itu. Ayah ku pernah bercerita. Katanya, saat masih bayi setiap sore aku sering menangis dan kebetulan rumahku dulu tak jauh dari stasiun kereta kota Bandung. ketika itu ayah membawaku kesana dan tangisan pun berhenti, apalagi jika kebetulan kereta melintas, seketika tangisan itu berubah menjadi tawa. Setelah itu tak ada lagi cerita tentangku darinya. Aku diberikan atau mungkin dititipkan pada bibi Ani, adik ibu yang dulu sering aku panggil ibu, hingga akhirnya sadar, ibu yang merawatku bukan ibu kandung. Kutendang bibi sambil berkacak mata "kau bukan ibuku!!" Dan orang yang dulu kupanggil ibu, masih saja baik, tak pernah berubah, hanya memanggilnya saja beda. Yang dulu memanggil nak, sekarang menjadi Man, panggilan nama. Tak jarang dia menawarkan pinjaman uang agar bisa menyogok masuk perusahaan kereta api atau untuk meneruskan sekolah. Aku tak bisa menerima itu, tubuhku terlalu kotor, bahkan memanggilnya ibu seperti dulu, bibirku tak sanggup dan tendangan itu semoga dia memaafkannya,sungguh waktu itu aku masih kecil, tak sanggup menerima kenyataan kalau ibu yang sebenarnya seperti tak menginginkan kelahiran ku. Sekarang, disini di rumah kecil ini aku merasa sempurna, meski fasilitas dan uang jajan yang berbeda dan bukan maksudku bersama bi Ani dulu tak sempurna, tapi semua orang pasti selalu ingin bersama wanita yang melahirkan nya. Tak perduli siapa dia, apa pekerjaannya, berapa uangnya. Pulang ke rumah, sesungguhnya aku memeluk ibu erat, untung aku robot jadi tidak menangis. To be continued
from http://ift.tt/1IxhbRn
from http://ift.tt/1IxhbRn






0 komentar:
Posting Komentar