Es Jeruk Oleh: Bangmo Muhammad Ridwan Saya sebenarnya ingin lekas sampai di rumah. Pekerjaan sehari ini benar-benar menguras stamina. Ditambah lagi telat makan siang. Alhasil, masuk angin pun menghampiri. Entah masuk dari mana. Yang jelas, saya harus berbaring lebih dari tiga jam menahan pusing dan mual. Saya memutuskan singgah di lapak pecel lele dekat terminal. "Mas, pecel lele masih ada?" "Oh, masih ada, Mas," sahut penjualnya ramah. "Satu porsi, ya," ucap saya sembari melepas tas laptop ke kursi plastik. Mas penjual pecel lele itupun berlalu menyiapkan pesanan. Tak lama kemudian datang Mbak pelayannya menghidangkan tiga ekor lele goreng berikut nasi dan lalap. Saya iseng bertanya, "Mbak, ini beneran lele?" "Iya, Mas. Memangnya kenapa?" "Kok gak ada kumisnya?" tanya saya dengan koplaknya. "Wah, kalo mau yang berkumis, harusnya Mas tadi pesan yang itu," sahutnya kalem sambil menunjuk seekor kucing yang lewat. Sialan! Kena, deh! Merutuk dalam hati seraya mesem. "O iya, Mas. Pesen minumnya apa?" "Es jeruk aja, deh," kata saya,"tapi ..." "Tapi apa, Mas?" Si Mbak mulai was-was. "Es jeruknya gak pake jeruk, ya!" Gubrak! Mbak sama Mas Pecel Lele kejang-kejang. Sebagian cerita hanya fiksi. Sambas, 8415
from http://ift.tt/1yVzgzQ
from http://ift.tt/1yVzgzQ






0 komentar:
Posting Komentar