Kamis, 09 April 2015

Luthfi Luthf

Mencoba menerapkan tips dari Pak Isa. Judul: 5 - 4 = 1 Oleh Luthfi Luthf Empat mata tanpa sengaja bertemu di bawah lampu padam. Yang sepasang berderai air, sepasang lainnya disengat sebuah keterkejutan, juga bercampur kebingungan. Anna, gadis remaja itu digerayangi rasa takut. Jangan, jangan bunuh aku juga. Kalimat itu tak meluncur, hanya berputar-putar di kepala berambut kuncir kudanya. Di sisi lain, manusia berpakaian ketat serba hitam menutupi hampir seluruh tubuh, termasuk wajah. Pisau belati digenggamnya. Pasti laki-laki. Lihat saja cara berdiri dengan merenggangkan kedua kaki, dan juga hasil perbuatannya barusan. Ruangan yang sebelumnya dihiasi lampu-lampu tepat di atas meja makan yang luas, dikelilingi para orang yang memiliki ikatan darah dengan Anna, harus berakhir di tangan lelaki misterius ini. Aliran air di wajah gadis itu semakin deras setelah barusaja lelaki di depannya menghilang pergi. Anna berganti posisi, sebelumnya terduduk di bawah jendela, kini meringkuk. -*- Paginya, Anna duduk di teras rumah tetangga sebelah. Tangisnya kembali pecah kala dihunjam berbagai pertanyaan oleh ibu-ibu. Membuat Dani, lelaki yang merasa paling berhak atas diri Anna berdiri menghalangi mereka dengan tubuhnya yang berpakaian lusuh. Dia saja belum tahu asal-muasal musibah yang menimpa gadis itu. "Tolong, biarkan dia istirahat dulu!" cegahnya. Baguslah, tak perlu menaikkan nada, para ibu sudah menutup mulut. Sekarang mereka berhambur mendekati garis polisi yang mengelilingi rumah Anna. Membuat gadis itu lebih leluasa menghirup udara. Muncul -lagi- sang tuan rumah bersama segelas air. "Minum dulu, Na," tawarnya. Lalu datang juga motor Ducati yang diparkir di halaman, depan tubuh Anna. Si pengendara menatap rumah yang ramai itu, kemudian beralih ke wajah Anna. "Inna lillaahi, Na. Saya juga turut berduka." "Terima kasih, Rama," ucap Dani. Layaknya ibu-ibu di sana, Rama membawa pertanyaan. Kalau cuma seorang, Anna bisa menyanggupi. Dani beserta tuan rumah ikut memasang telinga. Akhirnya gadis yatim piatu itu menceritakan semuanya. "Maafin aku ya, Mas Dani. Selamanya kamu gak akan bisa bertemu sama keluarga aku." "Gak papa, Na. Ini bukan salahmu." Sepasang kekasih itu saling berpegangan tangan. Selama dua tahun mereka hanya berpacaran di kampus saja. Belum pernah Dani berkunjung ke rumah Anna. Niatan ta'aruf pun harus disimpan dulu sampai semuanya membaik. -*- Suatu siang, dua lelaki duduk di sebuah kantin. Siapa lagi kalau bukan Dani dan Rama. "Dan, kau tahu siapa pelakunya?" Rama membuka pembicaraan. "Kayaknya orang itu kenal sama keluarga Anna. Harta benda di rumah gak dibawa kabur. Sepertinya dia balas dendam." Rama menoleh ke arah lawan bicara hingga rambut panjangnya yang lurus berkibar. "Tapi setahuku mereka tak memiliki masalah dengan siapapun," sanggahnya yang memang masih satu RW dengan Anna. "Lagipula, harta benda mereka diketahui sudah dimasukkan ke dalam sebuah kantong. Itu motif pencurian." Rama memperbaiki posisi kaca matanya. "Mungkin si pencuri panik lalu menjatuhkan barang curiannya." Dani terdiam. Mata lebarnya kemudian menatap tangan Rama yang memegang apel. Ia lempar ke atas lalu melesatkan sayatan pisau buah -setiap hari ia bawa di saku jas putihnya- membuat apel itu terbelah di udara. Dia memang lihai bermain pisau. "Apel, Dan," tawarnya. "Lalu, kenapa Anna dibiarin hidup sama pencurinya?" tanya Dani sambil mengunyah. Rambut pendeknya setengah bergetar. "Itu dia masalahnya. Aku juga bingung." Percakapan itu pun tak membuahkan hasil. Memang, sampai kapan pun mereka mencari. Takkan mampu menemukan siapa pelakunya. -*- Anna mematung dalam kamarnya. Seorang diri. Kakak kandungnya dari kampung yang diminta tinggal di rumahnya sedang pergi. Entah mengapa sesuatu mengusik kepalanya kembali pada kejadian itu. Saat matanya dan mata si pembunuh saling bertemu. Ia seperti mengenali mata itu. Tinggi tubuhnya persis sekali dengan seseorang. "Ah. Nggak mungkin." Segera ia menggeleng-gelengkan kepala. Mustahil kalau lelaki itu pelakunya. Di dunia ini, banyak lelaki yang bentuk matanya sama. "Assalamu 'alaikum!" Seseorang di balik pintu depan mengacak-acak lamunan Anna. Tapi itu bukan suara kakaknya. Melainkan suara yang ia kenali. "Wa 'alaikum salam!" jawabnya setelah berjalan menuju pintu depan. Tampak seorang lelaki yang membawa sebuah koper. Tak hanya itu yang dibawa, tetapi juga sebuah pengakuan. Setelah berbasa-basi tentang musibah Anna. Ia membuka koper. Di dalamnya tersimpan pakaian serba hitam dengan pisau belati yang pernah dilihat gadis itu. "Aku yang udah bunuh keluarga kamu." "Astaghfirullah! Kamu bohong kan, Mas Dani." Ekspresi Anna berubah drastis. "Iya aku pelakunya." Dani mendekatkan koper itu pada mata berbulu lentik kekasihnya. "Lihat. Baju ini punya aku." "Kenapa?" Anna menutup mulut. Matanya tak mampu lagi membendung air yang meluap. "Sebenarnya kerjaan aku itu nyuri. Dan aku gak tahu kalau rumah ini rumah kamu, aku juga gak tahu kalau mereka keluarga kamu," jelas Dani penuh penyesalan. Ia raih pisau belati, memaksakan Anna untuk memegangnya. "Ayo, balaskan dendam orang tuamu. Aku pantas mati." Anna menggeleng membuat buliran yang mengumpul di dagunya menetes. "Pergi!" Ia menjatukan senjata tajam itu. Tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. "Aku bilang pergi!" ulangnya lebih keras kala melihat Dani masih mematung. "Jangan pernah lagi muncul di hadapanku!" Kecewa? Mana mungkin tidak? Kekasih dicintai ternyata membunuh orang tuanya. -_- kayaknya endingnya udah ketebak -_-



from http://ift.tt/1FkCjcw

0 komentar:

Posting Komentar