Rabu, 08 April 2015

Azizul Aazoel

Lelaki Berkarat Berkata jujur tak selamanya seperti makan bubur bertabur kerupuk sehingga terasa enaknya. Jujur itu, pahit-pahit manis. 40 tahun kurang sepertiga bukan waktu yang sebentar bagi Aziz menjalani lika-liku kehidupan. Bukan hanya asin garam pada rendang yang ia kecap, tapi manisnya gula dalam gelas bercampur kopi telah pula, lama temani kisahnya. Perlahan tapi pasti, satu demi satu sahabat berlarian ke KUA. Aziz masih setia sebagai tamu undangan. Anehnya Aziz rela datang sambil membawa muka. Mungkin dia cemas bila pergi tanpa wajah, takut dianggap tak punya muka, "Plak!" Jika ditumpuk undangan yang dia terima, mungkin sudah bisa ditukar dengan abu gosok atau sebuah piring cantik. Tapi Aziz berkeras hati menyimpan semua itu untuk persiapannya kelak bila menikah. Jadi ragam warna surat undangan akan menjadi daya tarik tersendiri nantinya. "Ziz, lu kapan naik ring eh! Pelaminan?" tanya Wiro di sela rapat anggota KBM. "Kita meried bareng saja ya, Bang! Jadi bisa hemat," Julian juga ikut manas-manasi. Padahal dia susah punya si Diyan. "Hai..., lelaki berkarat!" Suara itu entah dari mulut siapa. Lalu semua gelap. End



from http://ift.tt/1NafIUl

0 komentar:

Posting Komentar