Rabu, 08 April 2015

Ra Zahra

MENGEJA CINTA 'Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad (Kahlil Gibran)' -<><>- PRATAMA Hari masih belum sempurna berdiri, bahkan sisa-sisa embun pagi masih bergelayut manja di ujung dedaun. Ketika tiba-tiba gadis berambut panjang lurus itu, sudah berada tepat di depanku. "Mas, ada yang ingin Za bicarakan." Seperti biasa, suara lembut itu sudah akrab menyapa di pendengaranku. "Ada apa, Za?" "Mas,... Za hanya ingin sebuah kepastian dari Mas." "Kepastian tentang apa?" "Za sayang sama, Mas. Apakah perasaan Mas juga sama ke Za?" Cukup bingung aku memilih kata untuk menjawab pertanyaannya. Aku dan Za, panggilan akrab gadis itu, sudah lama kenal. Bahkan hubungan kami sudah lebih dari tiga tahun. Za gadis yang baik, perhatian, dan selalu dapat mengerti keadaanku ketika aku sedang ada masalah. Dia juga seorang gadis yang ceria, selalu mampu cipta lelucon-lelucon kecil untuk membuatku tertawa. "Mas juga sayang kamu, Za." Sebuah kalimat yang akhirnya dapat kutemukan, setelah beberapa menit kumencarinya dalam kamus kebingunganku. "Sayang seperti apa?" Ah, apa maksud pertanyaannya? Jawaban seperti apa yang dia inginkan? Bukankah dia juga tahu, kalau selama ini aku juga sayang sama dia, sebagai seorang adik. "Apakah Mas mencintaiku?" Kini dia lempar pertanyaan yang bahkan tak dapat kueja untuk sekedar mencari jawabannya. Tatapan kedua matanya begitu tajam hingga menembus dadaku. Aku tak dapat berkutik seketika itu. "Cinta? Cinta abang ke adiknyakah?" Sejenak ia terdiam, "Mas, aku sayang dan cinta sama Mas. Apakah selama ini Mas sama sekali tak dapat membaca dari sikapku, perhatianku ke Mas bahwa itu adalah cinta?" Nadanya semakin tinggi, seolah ada emosi yang menyatu di dalamnya. "Maafkan aku, Za! Selama ini aku hanya menganggapmu tak lebih sebagai adik saja. Bahkan perhatian yang selama ini kuberi pun, hanya sebatas perhatian seorang abang kepada adiknya." Dia tak membalas kalimatku, dalam heningnya tiba-tiba matanya mulai gerimis. Lebih dari tiga tahun aku mengenalnya, belum pernah sekali pun aku melihatnya menangis. Dia gadis yang tegar, namun hari ini aku telah membuat ketegaran itu roboh dalam butiran air matanya. Kami terdiam cukup lama, aku masih ragu tentang kalimat apa lagi yang mampu kusampaikan untuk menghentikan isak tangisnya. Sementara apa yang sudah aku katakan pun, adalah sebuah kejujuranku. Jika cinta untuk saling memiliki yang dia ingin tuntut dariku, itu hanyalah sebuah kesia-siaan. Aku memang sayang padanya, tapi bukan cinta. Sedang cinta adalah hati, yang ia takkan dapat dipaksakan oleh apapun untuk mengungkapkannya. -<><>- SITI AZIZA Pagi itu, aku hanya ingin menuntut sebuah kepastian darinya akan perasaanku selama ini, sebagai seseorang yang lebih dalam hidupnya. Barangkali aku terlalu naif berdiam diri tanpa tahu seperti apa artiku selama ini baginya. Aku hanya membutuhkan kepastian itu. Aku tidak ingin ragu pada keputusanku untuk meminta kebenaran akan perasaannya selama ini padaku. Setelah tadi malam, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraannya di telepon yang entah dengan siapa. Suaranya agak mesra, ah ... semoga saja ini hanya perasaanku saja. Namun pagi itu, amarahku seakan meledak tanpa kendali. Tubuhku terasa panas seperti terbakar sesuatu yang begitu menyiksaku. Aku marah, aku benci dengan kalimatnya yang benar-benar tak dapat kuterima. Ah, gila! Kedekatan kami yang sudah lebih dari tiga tahun itu, bahkan perhatianku selama ini ke dia hanya dia anggap sebagai adik saja? Bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu? Harusnya dari sikap yang selama ini kutunjukkan padanya,... dia bisa mengerti, bahwa perasaan ini lebih dari sebatas abang dan adik. Aku masih ingin mendebat kalimatnya kala itu. Namun dentuman dalam jantungku kian memberontak dengan kasar. Nafasku pun semakin sesak. Hingga tak mampu cegah butiran air mata yang mulai membanjiri wajahku. -<><>- PRATAMA Dia masih bertahan dalam diamnya, meski sesekali isak tangisnya yang bicara. Aku tahu, ada sebuah emosi yang tengah meledak di dalam dirinya, namun aku sungguh tak dapat berbuat apa-apa. Perasaan ini tak dapat untuk kubohongi. Cepat atau lambat, semua ini akan terjadi. "Assalamualaikum!" Kebisuan kami terpecah oleh suara salam seseorang dari balik pagar. Suara yang sudah kukenal. Dea, kekasihku. "Waalaikum salam!" jawabku sembari beranjak dari dudukku menghampiri Dea. Za masih terdiam, pandangannya berpindah pada sosok Dea yang sudah berdiri tepat di depanku. Sebuah pandangan penuh tanya. Dea, gadis berhijab yang kukenal setahun lalu, adalah kekasihku. Dia sahabat adikku, Nanda. Sifatnya yang dewasa, serta kesederhanaannyalah yang telah mampu mencuri perhatianku tentang cinta. Kedekatan kami yang awalnya dicomblangi Nanda membuahkan hasil, sekarang kita hubungan kami sudah menginjak tiga bulan. "Maaf, jika aku mengganggu kalian. Aku cuma mau--" Sebelum sempat Dea melanjutkan kalimatnya, aku sudah terlebih dulu memotongnya. "Dea, kenalin ini Aziza. M-mm, Za ... ini Dea, pacarku." Tiba-tiba wajah Aziza berubah, wajah yang selama ini kulihat dalam tawa, sekejap hilang. Hujan di wajahnya yang tadi sempat reda, kini mulai merintik kembali. "Kenapa Mas gak pernah cerita padaku? Inikah balasan dari segala perhatianku selama ini, mas?" Emosi Za kini sudah benar-benar naik. Tatapan mata yang penuh dengan genangan air itu, terasa begitu hebat menamparku. "Apa maksudmu, Za? Aku memang sayang sama kamu, tapi sayangku ke kamu layaknya sayangku ke Nanda, adikku. Tentang cinta tak dapat dipaksakan, Za, meski kita sudah akrab dan dekat sejak lama." Aku berusaha mengatur suaraku agar tak terlalu terlihat emosi di depannya. Aku tahu, saat ini Za tengah dalam keadaan yang tidak stabil. Namun barangkali kejujuran ini adalah semua jawaban dari apa yang dia inginkan. Aku masih dapat melihat guyuran hujan di wajahnya, ketika ia berlari meninggalkanku dan Dea yang mematung saling pandang. Dea hanya berdiam melihat kepergian Za. Mungkin Dea pun mengerti tentang perasaan Za ketika itu. Satu bulan sudah berlalu dari kejadian itu, namun tak pernah sekali pun aku melihat Za lagi. Kemana dia? Benar-benar marahkah dia padaku karena aku yang tak dapat membalas cintanya? Apapun itu, aku berharap ... kelak, ia akan mendapatkan sebuah cinta yang mampu mencintainya dengan cinta. Sekian Jember, 28 Maret 2015 (repost) Ra Zahra



from http://ift.tt/1H2WfzR

0 komentar:

Posting Komentar