Ritual Pembuka Aura Oleh : Azel prd Braak. "Ma-Mama. Minta uang!" "Makan dulu. Baru juga pulang, emang buat apaan?" "Aalah. Mama enggak perlu tau!" "Mama enggak akan ngasih uangnya kalau kamu enggak mau ngasih tau!" "Iya. Aku pengen buka aura. Aku kan udah hampir 25 tahun. Tapi sampai saat ini jangankan nikah, punya pacar juga enggak." "Dengerin mama. Kamu itu enggak usah khawatir, tau kenapa? Karena jodoh itu udah ada yang ngatur." "Udahlah. Jangan dakhwah terus! Mama mau ngasih enggak?" "Kalau buat beli baju baru mama kasih, kalau buat itu ...." "Dasar pelit!" Braak! Rara pergi. Bingung. Apa yang harus kulakukan? Semakin dilarang Rara bakal semakin berontak. Tapi semua tak bisa kuamini karena apa yang dilakukannya juga salah. Ya Rabb. Beri hambaMu ini petunjuk! Apa ... yang harus kuperbuat? Indri. Hanya dia yang bisa menolongku. Kuhampiri Rara di kamarnya. "Ra, udah tidur belum? Boleh mama masuk." "Masuk aja," jawabnya ketus. "Ra. Kamu pengen buka aura kan? Mama punya temen yang bisa bukain aura kamu." "Aalah. Mama bohong kan?" "Enggak. Rara inget enggak sama Tante Indri? Rara tau. Tante Indri kan jago buka aura." "Serius Ma. Mauuu!" "Ya udah. Besok kita ke sana! Sekarang Rara salat dulu baru tidur." "Ya. Ma!" Keesokan harinya. "Ma. Ayo!" "Iya. Bentar." Ku jalankan motor ini cepat-cepat. Bagaimana tidak, Rara nyerocos terus enggak karuan pengen cepet-cepet sampai. Tidak sampai satu jam kami sampai ke rumahnya, kulihat raut bahagia di wajah putri semata wayangku. Kulihat Indri duduk di teras rumahnya. "Assalamualaikum." "Walaikumsallam. Masuk Ta! Oalah ... ini Rara ya, cantik." "Makasih Tante." "Ayo duduk. Mau minum apa?" "Enggak usah Tan. Mendingan langsung aja." "Syuut. Enggak sopan! Sabar Ra, kita baru aja nyampe." "Enggak apa-apa Ta. Kalau begitu ayo masuk! Coba rileks, tiduran aja." Kulihat Indri memijit wajah Rara penuh kelembutan, pijitan, masker lalu tenaga dalam ia lakukan. Bau harum keluar dari tubuh Rara menandakan Auranya yang mulai keluar. Rara terbangun, wajahnya sumringah penuh kebahagiaan. Ritual telah selesai dilakukan. Kami berdua pamit pulang, tak lupa ia berpesan agar senantiasa puasa senin-kamis. Rara melakukan semuanya. Salat puasa ia lakukan, waktu berlalu tanpa terasa. Hari yang di nanti kini telah tiba. Rara putriku akan menikah. Kulilitkan baju pengantin ke tubuh mungilnya, sambil sedikit membuka rahasia. "Ra. Kamu tau ini bisa terjadi karena apa?" "Iya dong Ma. Karena Tante Indri!" "Kamu salah Ra. Tante Indri hanya memberikan energi positif padamu selebihnya itu karena kamu sendiri." "Maksud Mama?" "Ra. Puasa yang kamu lakukan setiap hari senin kamis itulah yang membuatmu mendapatkan jodoh." "Maksudnya?" "Mama dan Tante Indri berusaha mengajarkan bahwa bukan dengan buka Aura kamu mendapatkan jodoh, tapi karena puasa dan salat yang kamu lakukan dengan khusyu, sehingga Alloh memberimu kemudahan. Dengar mama sayang, hidup mati jodoh rezeki itu semua sudah Alloh atur jadi jangan sampai berpikir yang macam-macam. Lihat! Buktinya sekarang kamu menikah." "Ma. Maafin Rara ... huhuhu." "Bukan sama mama, tapi sama Alloh. Sekarang hapus air matamu, nanti bedaknya luntur." "Ya. Ma!" Kuantarkan Rara menuju pelaminan. Aku bahagia. Bukan hanya karena Rara menikah, tapi karena kini ia mengerti bahwa jodoh bukan didapatkan dengan membuka aura tapi dengan salat dan puasa. The end. Bandung 040415
from http://ift.tt/1yLgRWy
from http://ift.tt/1yLgRWy






0 komentar:
Posting Komentar