Sabtu, 04 April 2015

Ramadani Ann Al-Qohirohiyyah

#Event_Karyaku Another Cindergkrela Story (Kacau Balau) Oleh : Ramadani Ann Al-Qohirohiyyah Selama beberapa tahun terlewati, tidak ada yang spesial. Hidup seadanya, tidak ada yang luar biasa. Semua menantikan kisah "Another Cindergakrela Story-Series" yang tidak pernah muncul di rubrik laman Komunitas Bisa Menulis sebuah Negeri yang penduduknya sendiri merupakan para penulis hebat. Hebat menyindir, mengeluh, menyolot satu sama lain, melawak, mencari teman maupun lawan. Termasuk penulis yang telah menulis tulisan ini, hebat karena telah memancing keributan, menjual kompor gas, dan tentu saja hebat merumput. (Sedang mengunyah rumput) •••• "Kemana perginya anak-anakku?" Tanya Momi Mis Anisa. "Hadir ..., Momi!" Jawab Anna Anabelle. "Hadir juga ..., Momi!" Ujar Likta Lupita. "Yihaaa ..., ciyeee Momi kangen akyu!!!" Seru Ijah Zahrana. Keluarga bahagia ini kemudian saling berpelukan. Masih ingat kan, mereka berpelukan seperti apa. "Sayang, Honey Bunny Sweety ..." Panggil Momi Mis Anisa. "Iyaaa ..., Momi!" Jawab mereka serempak. Siang itu, Momi berkata bahwa ia telah menemukan sebuah sarung misteri di teras rumahnya yang kinclong. Seseorang telah meletakannya di depan pintu. Hingga hampir saja Sang Momi terjatuh, ketika tiba-tiba ingin membuka pintu dan tergesa-gesa berjalan ke luar. Namun, dengan cepat ia menahan keseimbangan tubuhnya, sehingga tidak jadi jatuh tersungkur. "Kalian bertiga harus menemukan pemilik sarung tersebut!" Perintah Momi yang sedang mengemil gorengan di depan layar televisi. "Ogah ..., males ah, Mom!" Ujar Likta. "Akyu males juga, Mom. Mendingan mikirin Bee." Jawab Ijah yang sedang mengintip celengan ayamnya. "Aku mikir dulu ya, Mom. Setahun lagi aku kasih jawabannya, antara mau ikutan bilang males atau menuruti perintah Momi." Jawab Ann dengan tampang tak berdosa. "Huwaaaa ...!" (Gubrakk) •••• Akhirnya Anna yang menuruti perintah Momi untuk mencari pemilik sarung tersebut. Menggunakan bulu mata anti badai yang lebat dan rapat, cukup untuk melindungi bagian mata dari panas terik, mata yang akan digunakan untuk menerawang setiap pemuda pada inspeksi mendadak keliling komplek kali ini, berharap dapat bertemu pemiliknya. Anna berjalan dengan riang menelusuri tempat-tempat berkumpulnya pemuda di komplek perumahannya, sesekali melompat, hap ... hap ..., ia teringat masa kecilnya yang menyenangkan. Seorang pemuda yang baru saja berpapasan dengannya hanya menunduk, tidak menyapa. Anna mundur tiga langkah, lalu membalikkan tubuhnya. "Stop! Hayoo ..., kamu gak nyapa aku! Ketahuan kaaan," sapanya pada pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. "Hahh?" Pemuda itu hanya cengar-cengir gak jelas. "Kamu kehilangan sarung ya?" Tanya Anna to the point. "Oalaah, kagak, Neng!" Jawab pemuda yang diketahui bernama Abi Khalid Al Abdillah tersebut. Sambil membawa sekantong batu akik, pemuda itu berjalan meninggalkan gadis yang dikira sableng tersebut. Siang-siang buta menanyakan sarung. ••• Anna kembali berjalan, dan mengunjungi sebuah warung. Kebetulan disitu ada seorang pemuda yang diketahui bernama Arief Siddiq Razaan. "Sssst', kamu kehilangan sarung ya?" Bisiknya pelan pada pemuda yang duduk di sebelahnya itu. "Hahh? Sarung saya lengkap di rumah." Balasnya "Serius? Mungkin kamu lupa." Bisikknya lagi. "Iyalah mana mungkin lupa. Eh, Aku jualan pembalut herbal loh, kamu mau beli?" Bisik pemuda itu pelan. "Pembalut gue di rumah udah banyak, weeek!" Balas Anna, lalu pergi meninggalkannya. •••• Tidak ditemukan satupun pemilik sarung itu, hingga akhirnya ia bertemu seorang pemuda yang mungkin akan menjadi korban terakhir untuk diinterogasinya siang itu. "Hai, apa kabar?" Berbasa-basi pada pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. "Hai, aku baik ..., kamu? Pemuda yang diketahui bernama Richie tersebut kembali menyapanya dengan ramah. "Kamu kehilangan sarung ya?" Tanya Anna to the point. "Hahh?" Richie mengernyitkan dahinya. "Aku tanya, kamu kehilangan sarung?" Tegas Anna. "Iya ..., kok tahu?" Richie berharap gadis itu sedang bergombal, dan menunggu balasan selanjutnya. "Yihaaaa ..., akhirnyaaa!!!!" Anna bersorak bahagia. Berakhir sudah pencarian pemilik sarung tersebut. Setelah ini dia akan memberikan kabar kepada Momi. Anna meninggalkan Richie dengan hati yang riang. "Gak ada sambungannya ya?" Tanya Richie kecewa. •••• Kenapa saya ingin jadi penulis? Karena belum ingin menjadi dokter, kesalahan fatal seorang penulis masih bisa diperbaiki, kalau kesalahan fatal seorang dokter, pasien bisa mati. Dah itu aja. -_- BCG, 3/4/2015 Cc Ulya Fathiya



from http://ift.tt/1GchRuw

Nuruz Afifa

Mendung diawal april Ketika diam seolah menghanyutkan kita Tiada sapa terucap Hanya mata yang saling menatap Rintik hujan mulai nampak diawal april Kita masih terkapar dalam diam Masih saja tak ada kata Hanya hati yang kian mendera Memendam ribuan tanya Rintik dihiasi gemuruh diawal april Ketika tanya telah pecah Kita saling menatap Sibuk mencari sebab Namun yang ditemukan hanya mata yang sembab Semarang, 02 April 2015



from http://ift.tt/1GchRea

Bening Noor Ikhlas

#Event_April KADO ULTAH UNTUK MPUS Oleh: Bening Noor Ikhlas Degub jantung berdebar debar Dengar hand phone dering getar Kuintip nama Aa Mpus di seberang Memanggilku di telepon genggam Hallo Bening sayang, sapa Aa girang Paket kado telah tiba dengan aman Bolehkah dibuka saja sekarang Serasa dag dig dug hati penasaran Gelitik kaku terbahak tawa Kiat tipu semulus body Tamara Kibuli Mpus penebar cinta Pujangga modus senjata putika Terbayang detik detik pertama Pasti pingsan tak berdaya Kala mebuka bungkus kadonya Isi sapu tangan nemu di tong sampah Aroma wangi setara kentutnya Yang sangat terkesan di malam pertama Apel ke rumah mencurah cinta Grogi ke Emak, gas racun meledak pula Aa Mpus pasti mabuk sempoyongan Saking girang dapat kado kenangan Dari idola berat yang jadi pujaan Meski rupa sapu tangan bau comberan Bukalah sayang, bisik lirih berpura roman Padahal perut sudah keroncongan Membayang Mpus berakting kegirangan Demi cinta yang kadung diikrarkan Hong Kong, 04 Maret 2015 Cc. Kak Adie Alamsyah



from http://ift.tt/1xNsZer

Dewi Setiowati

Terima kasih, Abi Abi, terima kasih. Kau putuskan Ummi, tinggal di rumah, utamakan kami. Abi, terima kasih. Kau semangati Ummi, tetap rajin menggaji, 'tuk jadi sebaik hiasan dunia ini. Abi, terima kasih. Kau bantu Ummi, tetap giat mengabdi, agar orang taat Ilahi dan Nabi. YK, Ruang Cahaya, Jumat, 04 04 15, 21. 21 WAuW.



from http://ift.tt/1xNsYY3

Titien Marissa

Judul : Bang Ocid Rindu B-) Teduh langit malam melambaikan salam yang dihembuskan angin kerinduan. Ku raih handphone yang sedari tadi diam tak berdering. Hanya bernyanyian MP3 yang ku putar menggema seisi ruang kamar. Lalu ku cari nomor seseorang di nama kontak. Segera ku tekan.... dialled numbers.... Tersambung namun tiba-tiba, tutt tutt tutt... koneksi terputus. Drett drett, hape ku bergetar tanda ada sms masuk. Satu pesan yang baru ku terima segera ku buka. Sedih, kecewa.... dan serasa tak salah. Perasaan baru kemarin isi ulang, kenapa tiba-tiba ada yang menghadang ditengah jalan... menuntut ku membayar pajak sebelum aku menyapa seorang bidadari disana. Apakah karna dia, si operator cemburu tak bermalam minggu ? bisa jadiii... "pulsa sudah abis" "sabun sudah abis" "odol juga abis," Aiihh... sialan, kenapa mendadak lirik lagu itu menyindirku. kenapa smua jadi habis. Padahal masih tanggal muda, masih unyu-unyu dan penuh gairah. Hanya bisa pasrah.... "Munaroh... sebenarnya abang kangen. Tapi pulsa abang kena tilang sama mba mas ibu bapak operator yang lagi galau gegara tak malam mingguan :'( ," Satu pesan, dua pesan tiga empat sampai tujuh pesan baru masuk. Dari pengirim yang sama dan pas ku buka hanya sebuah tanda baca. " ? ," hiks.. Munaroh.... pulsa abang ludes dilalap si jajagomblo merah... auuhhhh. Lalu ku buka isi pesan kedua masih sama hanya tanda "cengkrong". Tiga empat lima sampai pesan terakhir isi tetap sama, tanda-tanya "? " ... karna tanda melengkung sms mu, jadi smakin galau rindu ku. Saya, si bang Ocid yang merindukan Munaroh, bukan Munawar apalagi Munarso. Gini-gini saya cowo maco :p #JustJoke #HumorSabtuMalam



from http://ift.tt/1CEyTNZ