Rabu, 08 April 2015

Rini Nurmala Sari

#Dialog_Simple MENIKAH ¤ ¤ ¤ Rere : "Ma, kamu kapan nikah?" Rahma : "Insya Allah, nanti jika sudah saatnya." Rere : "Emang sudah ada calonnya?" Rahma : "Insya Allah, sudah." Rere : "Siapa? Kan kamu enggak ada dekat sama cowok, Ma?" Rahma : "Iya, emang enggak ada dekat. Tapi jodoh kan sudah ada disiapin sama Allah." Rere : "Eh, kalau misalnya ada yang ngelamar kamu. Kamu terima enggak?" Rahma : "Kalau cocok, kenapa enggak?" Rere : "Tapi, kan kamu belum tahu dia baik atau enggak, Ma?" Rahma : "Re, wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Kenapa ragu? Allah kan lebih tahu." Rere : "Hem, iya deh iya. Tapi kalau misalnya ada yang ngelamar dalam waktu dekat ini. Apa kamu siap?" Rahma : "Insya Allah, jika Allah sudah mengehendaki. Berarti Dia sudah yakin pada kesiapan kita, Re." Rere : "Tapi kan kamu masih muda?" Rahma : "Allah lebih tahu apa-apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Jika lebih baik menikah muda, kenapa harus menunda?" * * * 07.04.2015



from http://ift.tt/1IFYeZp

Ra Zahra

MENGEJA CINTA 'Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad (Kahlil Gibran)' -<><>- PRATAMA Hari masih belum sempurna berdiri, bahkan sisa-sisa embun pagi masih bergelayut manja di ujung dedaun. Ketika tiba-tiba gadis berambut panjang lurus itu, sudah berada tepat di depanku. "Mas, ada yang ingin Za bicarakan." Seperti biasa, suara lembut itu sudah akrab menyapa di pendengaranku. "Ada apa, Za?" "Mas,... Za hanya ingin sebuah kepastian dari Mas." "Kepastian tentang apa?" "Za sayang sama, Mas. Apakah perasaan Mas juga sama ke Za?" Cukup bingung aku memilih kata untuk menjawab pertanyaannya. Aku dan Za, panggilan akrab gadis itu, sudah lama kenal. Bahkan hubungan kami sudah lebih dari tiga tahun. Za gadis yang baik, perhatian, dan selalu dapat mengerti keadaanku ketika aku sedang ada masalah. Dia juga seorang gadis yang ceria, selalu mampu cipta lelucon-lelucon kecil untuk membuatku tertawa. "Mas juga sayang kamu, Za." Sebuah kalimat yang akhirnya dapat kutemukan, setelah beberapa menit kumencarinya dalam kamus kebingunganku. "Sayang seperti apa?" Ah, apa maksud pertanyaannya? Jawaban seperti apa yang dia inginkan? Bukankah dia juga tahu, kalau selama ini aku juga sayang sama dia, sebagai seorang adik. "Apakah Mas mencintaiku?" Kini dia lempar pertanyaan yang bahkan tak dapat kueja untuk sekedar mencari jawabannya. Tatapan kedua matanya begitu tajam hingga menembus dadaku. Aku tak dapat berkutik seketika itu. "Cinta? Cinta abang ke adiknyakah?" Sejenak ia terdiam, "Mas, aku sayang dan cinta sama Mas. Apakah selama ini Mas sama sekali tak dapat membaca dari sikapku, perhatianku ke Mas bahwa itu adalah cinta?" Nadanya semakin tinggi, seolah ada emosi yang menyatu di dalamnya. "Maafkan aku, Za! Selama ini aku hanya menganggapmu tak lebih sebagai adik saja. Bahkan perhatian yang selama ini kuberi pun, hanya sebatas perhatian seorang abang kepada adiknya." Dia tak membalas kalimatku, dalam heningnya tiba-tiba matanya mulai gerimis. Lebih dari tiga tahun aku mengenalnya, belum pernah sekali pun aku melihatnya menangis. Dia gadis yang tegar, namun hari ini aku telah membuat ketegaran itu roboh dalam butiran air matanya. Kami terdiam cukup lama, aku masih ragu tentang kalimat apa lagi yang mampu kusampaikan untuk menghentikan isak tangisnya. Sementara apa yang sudah aku katakan pun, adalah sebuah kejujuranku. Jika cinta untuk saling memiliki yang dia ingin tuntut dariku, itu hanyalah sebuah kesia-siaan. Aku memang sayang padanya, tapi bukan cinta. Sedang cinta adalah hati, yang ia takkan dapat dipaksakan oleh apapun untuk mengungkapkannya. -<><>- SITI AZIZA Pagi itu, aku hanya ingin menuntut sebuah kepastian darinya akan perasaanku selama ini, sebagai seseorang yang lebih dalam hidupnya. Barangkali aku terlalu naif berdiam diri tanpa tahu seperti apa artiku selama ini baginya. Aku hanya membutuhkan kepastian itu. Aku tidak ingin ragu pada keputusanku untuk meminta kebenaran akan perasaannya selama ini padaku. Setelah tadi malam, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraannya di telepon yang entah dengan siapa. Suaranya agak mesra, ah ... semoga saja ini hanya perasaanku saja. Namun pagi itu, amarahku seakan meledak tanpa kendali. Tubuhku terasa panas seperti terbakar sesuatu yang begitu menyiksaku. Aku marah, aku benci dengan kalimatnya yang benar-benar tak dapat kuterima. Ah, gila! Kedekatan kami yang sudah lebih dari tiga tahun itu, bahkan perhatianku selama ini ke dia hanya dia anggap sebagai adik saja? Bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu? Harusnya dari sikap yang selama ini kutunjukkan padanya,... dia bisa mengerti, bahwa perasaan ini lebih dari sebatas abang dan adik. Aku masih ingin mendebat kalimatnya kala itu. Namun dentuman dalam jantungku kian memberontak dengan kasar. Nafasku pun semakin sesak. Hingga tak mampu cegah butiran air mata yang mulai membanjiri wajahku. -<><>- PRATAMA Dia masih bertahan dalam diamnya, meski sesekali isak tangisnya yang bicara. Aku tahu, ada sebuah emosi yang tengah meledak di dalam dirinya, namun aku sungguh tak dapat berbuat apa-apa. Perasaan ini tak dapat untuk kubohongi. Cepat atau lambat, semua ini akan terjadi. "Assalamualaikum!" Kebisuan kami terpecah oleh suara salam seseorang dari balik pagar. Suara yang sudah kukenal. Dea, kekasihku. "Waalaikum salam!" jawabku sembari beranjak dari dudukku menghampiri Dea. Za masih terdiam, pandangannya berpindah pada sosok Dea yang sudah berdiri tepat di depanku. Sebuah pandangan penuh tanya. Dea, gadis berhijab yang kukenal setahun lalu, adalah kekasihku. Dia sahabat adikku, Nanda. Sifatnya yang dewasa, serta kesederhanaannyalah yang telah mampu mencuri perhatianku tentang cinta. Kedekatan kami yang awalnya dicomblangi Nanda membuahkan hasil, sekarang kita hubungan kami sudah menginjak tiga bulan. "Maaf, jika aku mengganggu kalian. Aku cuma mau--" Sebelum sempat Dea melanjutkan kalimatnya, aku sudah terlebih dulu memotongnya. "Dea, kenalin ini Aziza. M-mm, Za ... ini Dea, pacarku." Tiba-tiba wajah Aziza berubah, wajah yang selama ini kulihat dalam tawa, sekejap hilang. Hujan di wajahnya yang tadi sempat reda, kini mulai merintik kembali. "Kenapa Mas gak pernah cerita padaku? Inikah balasan dari segala perhatianku selama ini, mas?" Emosi Za kini sudah benar-benar naik. Tatapan mata yang penuh dengan genangan air itu, terasa begitu hebat menamparku. "Apa maksudmu, Za? Aku memang sayang sama kamu, tapi sayangku ke kamu layaknya sayangku ke Nanda, adikku. Tentang cinta tak dapat dipaksakan, Za, meski kita sudah akrab dan dekat sejak lama." Aku berusaha mengatur suaraku agar tak terlalu terlihat emosi di depannya. Aku tahu, saat ini Za tengah dalam keadaan yang tidak stabil. Namun barangkali kejujuran ini adalah semua jawaban dari apa yang dia inginkan. Aku masih dapat melihat guyuran hujan di wajahnya, ketika ia berlari meninggalkanku dan Dea yang mematung saling pandang. Dea hanya berdiam melihat kepergian Za. Mungkin Dea pun mengerti tentang perasaan Za ketika itu. Satu bulan sudah berlalu dari kejadian itu, namun tak pernah sekali pun aku melihat Za lagi. Kemana dia? Benar-benar marahkah dia padaku karena aku yang tak dapat membalas cintanya? Apapun itu, aku berharap ... kelak, ia akan mendapatkan sebuah cinta yang mampu mencintainya dengan cinta. Sekian Jember, 28 Maret 2015 (repost) Ra Zahra



from http://ift.tt/1H2WfzR

Tatu Risti Fauziah

Sang Bajak Peluka Cinta, Bukan karena dia cinta Memilihmu sebagai peraduan hati Menjajakan kasih dan sayang, yang katanya putih Mencecar dengan ujaran pemanis di telinga Dulu, Setelah jahiliyah dan jahiliyah kembali Bukan sebenar bodoh Tapi mungkin lebih bodoh lagi Apa sebab? tahu arah namun merelakan Hati selalu teriris mengingatnya Tidak pantas, kupikir Dia pembajak tak bertanggung jawab Guna melalaikan dan menuntas rapuhkan ha-ti! Tak kan ada Jika dulu enggan kau beri peluang Angka mati bersama jarum pun turut menyaksi Jeda untuk sekian waktu kau bersamanya Dalam peraduan dusta Usah kau sematkan nama tak pasti di hatimu Usahlah kenang masa itu Kau cetak catatan baru di lembar harimu Lupakan, karna lupa adalah obat dari mengingat masa lalu Trf 04/2015 *In the dark midnight -_-



from http://ift.tt/1IGtEPc

Hasna Dewi S

PENGUMUMAN KARYA TERBAIK EVENT MENULIS PUISI ANAK Bismillahirrahmanirrahim. Setelah dilakukan penyeleksian dan penjurian, berikut ini diumumkan 10 karya terbaik yang telah dipilih oleh juri. Sebagai berikut: Terbaik 1 - Pulsa 25 Elfi Ratna Sari Judul: Nomor Satu Terbaik 2 - Pulsa 20 Karunia Sylviany Sambas Judul: Ayah, Ibu, Kumohon Dengar Pintaku Terbaik 3 - Pulsa 15 Siti Jamilah Judul: Arti Pendidikan Terbaik 4 - Pulsa 10 Titien SDF Judul: Andai Engkau Tahu Terbaik 5 - Pulsa 10 Nini Sekar Angle (Ninis) Judul: Dia Juga Anakmu Terbaik 6 - Pulsa 10 Nuraeni Ibrahim Judul: Aku Merindu Terbaik 7 - Pulsa 10 Rumman Ahmar (Sayyidah Yusran) Judul: Peluklah Aku Terbaik 8 - Pulsa 10 Adie Alamsyah Judul : Ibuku Adalah Cahaya Terang Terbaik 9 - Pulsa 10 Dewi Setiowati Judul: Terima kasih, Ummi Terbaik 10 - Pulsa 10 Karunia Sylviany Sambas Judul: Cita-Citaku Kepada setiap pemenang silahkan kirim nomer hp ke inbox saya. Juri tahap seleksi: Hasna Dewi S Juri tahap akhir penilaian: Sultan Muhammad Al-Fatih Catatan Event: ============ 33 Karya Lolos Tahap Seleksi: 1) AKU MERINDU - Nuraeni Ibrahim 2) Wanita Hebat Jagoanku - Adie Alamsyah 3) JANGAN MENANGIS MAMA - Nuraeni Ibrahim 4) Judul: Terimakasih - Syairku (zakiyatun n.) 5) Untuk Bunda - Isyhaq Badai Arantya 6) TUHAN, JAGA AYAH DAN IBUKU - Retno Utami 7) TUHAN, JAGA AYAHKU - Retno Utami 8) Peluklah aku - Rumman Ahmar (Sayyidah Yusran) 9) Ibu - Yoga Chandra Bagindo NanSati 10) Beri Aku Waktu, Bunda - Titien SDF 11) Hanya Perlu Kasih Sayang - Nafisah Kanopus Stars. 12) IBU - Ice Rosmala Devi (Bunda Firdaus) 13) Tersenyumlah, Ibu Kartini - Elisa D.S. 14) Ibuku Adalah cahaya terang - Adie Alamsyah 15) Mamahku Hebat - Asep Dani 16) Mamaku Terhebat - Dee Chie 17) Aku Butuh Mama - Tri Wahyuni 18) UNTUK AYAH DAN IBU - Rini Nurmala Sari 19) MENGERTILAH BU - Cahyaning Wengi (Wiwi Nurgiyanti) 20) Dia juga anakmu - Nini Sekar Anlge (Ninis) 21) Rindu - RP (Malaika Az Zahra) 22) Andai Engkau Tahu - Titien SDF 23) Kasihmu Bunda - Yanti Ummu Kinaan (Najma MR) 24) Arti Pendidikan - Siti Jamilah 25) Cintai Aku - Ice Rosmala Devi (Bunda Firdaus) 26) Ayah, Ibu, Kumohon Dengar Pintaku - Karunia Sylviany Sambas 27) Harapku tuk Bapak dan Ibu- Maisaroh Mai 28) Nomor Satu - Elfi Ratna Sari 29) Harapku buatmu Ibu - Karunia Sylviany Sambas 30) Ingin kugapai Terang - Elfi Ratna Sari 31) Terima kasih, Abi - Dewi Setiowati 32) Terima kasih, Ummi - Dewi Setiowati 33) Cita-Citaku - Karunia Sylviany Sambas Ucapan Terimakasih Kepada: ======================== 1] Siti Maghfiroh S, atas ide dan kerjasamanya selama event berlangsung. 2] Sultan Muhammad Al-Fatih, atas kesediannya menjadi juri. 3] Para donatur event 4] Seluruh peserta yang telah berpartisipasi meramaikan event ini dengan karya yang apik. Mohon maaf apabila ada hal yang kurang berkenan selama event berlangsung. Salam karya, Hasna Dewi S



from http://ift.tt/1IqU3E7

Lubab Mutiara Pengajar

“Mentradisikan Roda Ekonomi dengan Sistem Keadilan Sosial dan Persatuan Indonesia – Revolusi Mental Untuk Darurat Ekonomi Indonesia” EDISI EKONOMI Bukan sok perhatian tentang ekonomi, karena saya sendiri pun sedang mengalami kesulitan ekonomi karena berbagai faktor. Namun dari hasil melihat kasus saya ini, bisa menilai bahwa mentradisikan roda ekonomi di tiap desa dengan menggunakan sistem “Keadilan Dan Persatuan” kurang mendapat perhatian. Padahal anggaran mencapai milyaran (tidak tahu pasti) per desa yang seharusnya sudah cukup bahkan berlebih untuk memodalkan pematangan ekonomi dengan sistem keadilan dan persatuan. Kalau tiap desa memiliki kematangan ekonominya sendiri – karena gabungan ekonomi per individu – maka secara otomatis akan membentuk persatuan ekonomi untuk Indonesia. Karena sudah biasa menjalani ekonomi dengan memperhatikan keadilan dan persatuan antar individu, maka menjalin persatuan Indonesia antar daerah akan bisa dilakukan. Hasilnya, berpotensi bisa membayar hutang negara 50% LUNAS. Sepengetahuan saya sendiri yang terbatas, mereka mengurus ekonominya sendiri-sendiri, tanpa pembekalan dan tanpa penyaluran sebagai roda ekonomi berkelanjutan. Bila sudah kaya, merasa amnesia. Namun bila bernasib miskin, merasa terhina. Termasuk saya mengurus ekonomi saya sendiri, dengan menggunakan kemampuan saya sendiri hasil belajar sendiri. Walau dalam hal ini kondisi saya mungkin sudah aman dan potensial dalam meraih kematangan ekonomi. Namun, saya tidak menjamin bila saya sudah mengalami kematangan ekonomi, saya menjadi amnesia atau tidak :-) Ada sebuah prinsip yang sering didengung-dengungkan namun nimim sekali pengamalan adalah, “Bercerai kita runtuh, bersatu kita utuh.” Bercerai di sini bukan dalam masalah kasus konflik sosial saja namun bisa juga karena tidak adanya niat untuk membangun sistem persatuan, sehingga seakan telah bercerai. Sahabat tahu, bahwa banyak sekali seminar-seminar di Indonesia kan? Ada seminar untuk menjadi orang yang super kaya, seminar menjadi orang yang super mandiri dan sukses, dll. berbagai seminar yang tujuannya untuk mengurus “Individu Sahabat” dan selebihnya untuk mengurus bisnis “Si Penyelenggara Seminar”. Namun apakah pernah tiap desa – yang terwakilkan - melakukan kegiatan-kegiatan pengembangan pribadi manusia untuk ekonomi dan sosial desa? Yang jelas, saya belum mendapat undangan gratis mengenai pengembangan skill dan program lainnya dari perwakilan pemerintah desa. Daripada mengeluh, itu tidak baik, Sahabat... Karena Sahabat sudah tahu masalahnya, bahwa penting mentradisikan roda ekonomi dengan sistem keadilan dan persatuan Indonesia, maka selebihnya dilakukan sendiri-sendiri. Walau sendiri-sendiri, bila yang melakukan berjumlah banyak, maka sudah terotomatiskan untuk bersatu dalam satu tujuan: Kematangan Ekonomi Indonesia. Berikut yang perlu dilakukan oleh semua individu untuk kepentingan Roda Ekonomi Bersistem Keadilan Sosial dan Persatuan Indonesia: 1. Perhatikan dan Kuasai 4 Casflow Quandrant Sahabat: Sayang sekali, hanya karena terperangkap sistem pendidikan yang berfokus membentuk penteori ulung dan penyampah teori, banyak yang tidak memperhatikan 4 Casflow Quandrant, baik dalam pembelajaran atau pengamalan. Padahal, dalam segi kegiatan belajar dan karir sangat penting mengetahui agar bisa terarah dalam menguasai beberapa Casflow Quandrant. Hasilnya, karena sudah ter-jamak-an (sudah banyak yang tidak memperhatikan), keadaan Indonesia mengalami keterburukan ekonomi. Berikut 4 Casflow Quandrant yang harus diketahui untuk menguasainya: - Skill Pekerja - Skill Pekerja Mandiri - Skill Bisnis - Skill Investasi Terlihat sederhana, namun 4 Casflow Quandrant itulah tujuan akhir dalam pemberdayaan ekonomi. Kalau Sahabat bekerja, maka ujungnya menghasilkan gaji. Kalau Sahabat menjadi pekerja mandiri maka ujungnya menghasilkan honor. Kalau Sahabat bisnis dan investasi, ujungnya Sahabat menghasikan pasif income. Tentu ini adalah tujuan dalam pemberdayaan ekonomi. Sekarang, bagaimana bila Sahabat tidak menguasai skill dari 4 Casflow Quandrant di atas? Sahabat bisa bahasa Inggris, tetapi apakah bisa menjadi pekerja kantoran atau mandiri sebagai “Penerjemah Bahasa” yang dibayar? Saya kira, perlu yang mananya pemberdayaan skill untuk kebutuhan kematangan ekonomi. 2. Perhatikan Darurat Pasar Internasional alias Global Sebuah keluarga Si Rojul, misal, punya uang 10.000.000, namun dalam satu bulan uang habis tanpa sisa bahkan hutang karena berhubungan dengan pihak importir. Keluarga Si Rojul tersebut selalu impor daging sapi, kedelai, dan sebagainya namun tidak pernah melakukan ekspor kepada keluarga lain. Bila selalu begitu, tidak ada roda ekonomi yang bisa mensejahterakan keluarga tersebut. Jadi, inti mematangkan ekonomi sebuah “Keluarga Indonesia” adalah dengan memaksimalkan ekspor ke beberapa keluarga negara lain. Bahkan lebih baik mengalami menurunan dalam hal Impor (baca: jangan terpengaruh pihak keluarga negara luar dalam menanam modal atau penjualan produk). Kabar baiknya, ini era online yang membuat per individu bisa melakukan perdagangan Internasional tanpa perlu terlibat dalam peraturan Ekspor/Impor. Dan, saya pun sedang melakukan hal ini untuk meraup banyak dollar. Bila saya menghasilkan banyak dollar, maka akan menguntungkan pihak Indonesia (baca: termasuk Bank Indonesia yang sebagai pihak pencairan cek atau transfer) 3. Lakukan Kerjasama ekonomi untuk Keadilan Sosial dan Persatuan Indonesia Dalam hal ini, tidak sekedar dalam hal memberi modal untuk orang lain, tetapi mencakup tema “Pemberdayaan Masyarakat”. Karena kalau kita memperkaya diri sendiri, maka tidak ada yang namanya roda ekonomi untuk Keluarga Indonesia sendiri. Akhirnya, semakin kaya seseorang, malah membuat terjadi pemiskinan di sebagian orang lain. Jadi, dengan mengadakan kerjasama dalam perekonomian adalah untuk mewujudkan keadilan sosial. Di sini tidak membahas tentang Sosialisme, tetapi lebih kepada “Relawan Sosialis”. Pada ujungnya akan mengalami yang namanya “Sistem Duplikasi” (jangan diartikan bisnis MLM, bisnis jaringan), sistem yang membuat satu-kesatuan antar anak bangsa Indonesia.



from http://ift.tt/1PkMosG