Ibu Supriatun #kisah_nyata Pagi itu, saya mengaji ke rumah salah satu guru saya. Beliau bercerita tentang Ibu Supriatun. Menurut keterangan guru saya, Ibu Supriatun adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Jawa Tengah. Tetapi guru saya tidak menjelaskan di kota apa. Tak ada yang istimewa tentangnya. Hanya seoarang ibu rumah tangga biasa. Dalam keseharian, beliau berjualan kue. Mengantar ke pasar-pasar. Mengurus anak dan suami pun seperti kebanyakan ibu rumah tangga lainnya.Hingga ahirnya beliau meninggal. Tiga puluh tahun setelah kematian beliau. Sang anak bermimpi, didatangi ibunya. "Nak, pindahlah kuburan ibu di dekat kuburan ayahmu. Ibu kangen sama ayahmu, Nak." Sang anak tergeragap, terbangun dari tidur dan merenungi perkataan ibunya. Dia tidak berani bertindak. Dan setelah dipikir masak-masak. Dia memutuskan untuk bertanya kepada orang-orang alim dan kiayi di daerahnya. Semua orang alim dan kiayi menyetujui untuk memindah kuburan ibunya. Proses pembongkaran makam pun dimulai. Disaksikan sanak saudara, tetangga, pun para kiayi. Dan betapa terkejutnya semua yang hadir, saat melihat jasad Ibu Supriani masih utuh, masih segar. Bahkan baunya harum sekali. Semua yang menyaksikan terharu. Mencucurkan air mata. Mengucap takbir. Meskipun sebenarnya hati mereka bertanya-tanya. Amalan apa yang diperbuat oleh Ibu Supriatun? Sampai-sampai jasad beliau yang sudah terkubur selama 30 tahun, masih utuh, segar, bahkan berbau harum semerbak. Setelah proses pemindahan makam selesai. Anak Ibu Supriatun ditanyai oleh para tetangga. Amal apa gerangan yang diamalkan oleh Ibunya? Sampai tercium bau harum seperti itu. Sang anak menjawab, dalam ingatannya, taka ada amalan yang istimewa. Ibunya biasa-biasa saja. Bahkan dia sendiri heran. Ahirnya dia mendatangi salah seoarang kiayi, dan menanyakannya. "Kyiai, sebenarnya ibu saya mempunyai amalan apa? Sehingga jasad beliau masih utuh dan berbau harum? Padahal seingat saya ibu itu biasa-biasa saja." ucapnya sambil terheran. Sang Kyiai yang sudah kasyaf itu pun tersenyum. "Memang, kelihatannya, ibumu tak jauh beda dengan ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Tetapi, yang membuatnya berbeda dan istimewa adalah kepatuhannya pada ayahmu. Dan mulai menikah sampai menutup usia, ibumu tidak pernah memarahi ayahmu. Meskipun kadang jelas-jelas ayahmu yang salah." ucap Kyiai,bsambil tersenyum. "Maasyaa Allah ... Subhanallah ..." sahut anak Ibu Supriatun. "Iya, saya baru ingat. Ibu tidak pernah marah atau mengomel pada ayah. Bahkan saat ayah marah pun, ibu lebih memilih diam untuk kemudian meminta maaf. Padahal jelas sekali, bukan ibu yang salah." lanjuntnya. ... "Maasyaa Allah... Subhanallah ... Maha Suci Allah. Itu namanya Wali Mastur (Wali yang tidak terlihat). Jadi kalau ingin jadi walinya Allah, jangan putus asa. Walinya Allah tidak harus yang bercadar atau juga yang amalannya tidak putus-putus sehari penuh, atau juga yang puasa terus , atau juga yang tidak pernah tidur malam. Semua itu, atas izin Allah, atas kehendak Allah, yang penting ihlas. Kita orang yang biasa-biasa pun bisa jadi walinya Allah. Jangan putus asa. Yang penting, niat dijaga, dan hati yang ihlas. Seperti Ibu Supriatun contohnya. Dengan bermodal patuh pada suami dan tidak pernah ngomel atau marah pada suaminya, dengan hati yang ihlas pula. Dia bisa mendapat keutamaan seperti itu." ngendikan guru saya. Saya manggut-manggut. Merasa takjub. Sebuah amalan yang sepertinya biasa saja malah bisa mengantarkan ke surga. Maasyaa Allah... Subhanallah... Semoga kita, hususnya para wanita baik yang sudah menikah atau belum, bisa mengambil hikmah dari cerita guru saya diatas. Aamiin.. Saya hanya ingin berbagi cerita. Terimakasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. Aaminn... :-) Salam pena. Wind.
from http://ift.tt/1GUasiA
from http://ift.tt/1GUasiA






0 komentar:
Posting Komentar