Almari Kayu Tua Engkau menyimpan rahasia terbesarku, Kini aku hanya sering berandai-andai. Dulu ketika aku mati-matian mempertahankan skripsi. Hasilnya hanya jadi penunggu Almari kayu. Sedang aku bertanya pada seorang mahasiswi yang berdiam di bangku pojok, "Dik, lagi baca novel?" "Iya" jawabnya. "Serius sekali?" "Ini kali ketiga aku bacanya, aku sampai nangis terus habis baca, aku ikut sedih, aku ikut senang, aku ingin melakukan seperti apa yang dilakukan para tokohnya, dan yang lain-lainya. Ini sungguh membuat perubahan besar dalam hidupku, karena aku terinspirasi oleh ceritanya!" Ohh, alangkah indahnya, jika skripsiku, skripsi temanku, skripsimu dan skripsi temanmu terbaca berulang-ulang bagai buku novel. Kenapa tak dibuat seperti novel saja skripsi itu? Maka tersalurlah ilmu yang tersirat. Lihat apa yang akan mereka perbuat jika telah memperoleh pengetahuan baru? Pernahkah kalian berpikir demikian? Saat inipun aku masih berpikir demikian. Meratapi kesedihan hasil karya yang kita bela mati-matian saat sidang pada juri-juri yang radikal dan sinis. Lihatlah sekarang, hanya menjadi penunggu almari kayu tua. Gombal Amoh! By: Isyhaq Badai Arantya Di bawah kolong langit Yogyakarta, 05/04/2015
from http://ift.tt/1F1qU1c
from http://ift.tt/1F1qU1c






0 komentar:
Posting Komentar