Senin, 06 April 2015

Harianto Sutrisno

Mohon izin menampilkan tulisan seorang penulis pemula. Terimakasih. NELANGSA (CATATAN HATI SEORANG SUAMI 2) “Mas, kok masih santai? Apa nggak jadi ke Pekanbaru?” tanya istriku seraya menarik kursi dan duduk di sampingku. Parfum Estee Lauder Pleasure yang dipakainya terasa harum dan lembut memenuhi ruangan ini. Kelihatannya istriku sudah siap untuk pergi ke tempat temannya. “Ya, nanti pukul sebelas perginya, sekarang kan masih pukul delapan,” jawabku dengan mata tetap fokus kepada surat kabar pagi yang sedang kubaca. “Pagi ini Vina mau ke rumahnya Mbak Lestari, itu lho yang istri mantan Bupati Deli Serdang, setelah itu ada acara arisan siang ini, jadinya nggak bisa ngantar Mas ke Kuala Namu.” “Nggak apa-apa sayang, nanti Mas di antar supir aja,” jawabku sambil melipat surat kabar. “Ya sudah, kalau begitu Vina pergi dulu.” Akhir-akhir ini kehidupan rumah tangga kami yang telah berjalan hampir tiga puluh lima tahun, terasa datar dan sepertinya hanya untuk menjalani rutinitas sehari-hari saja. Setiap dua minggu aku harus mengurusi kebun kelapa sawit seluas dua ratus hektar di daerah Flamboyan, Propinsi Riau. Aku juga sering ke Jakarta untuk mengurusi bisnis. Sementara istriku sibuk dengan beberapa komunitas ibu-ibu di kota Medan, entah untuk kegiatan arisan, kegiatan amal atau jalan-jalan ke luar negeri bersama teman-temannya. Kami dikaruniai dua orang anak, satu putera dan satu lagi puteri. Keduanya saat ini sudah berumah tangga, yang satu bertugas sebagai hakim tinggal di Bandung bersama istrinya, dan yang satu lagi tinggal di Surabaya bersama suaminya yang bekerja sebagai kepala cabang sebuah bank pemerintah. Kami juga telah dikaruniai tiga orang cucu. Siapa saja yang mengenal keluargaku, pastilah akan mengatakan kalau keluarga kami adalah keluarga bahagia. Tapi inilah sebenarnya yang terjadi. Usiaku sekarang sudah enam puluh satu tahun, sedangkan Vina istriku berusia lima puluh lima tahun. Namun sekarang ada peperangan batin yang terjadi dalam rumah tangga kami, terutama setelah Vina mengalami menopause. Dia selalu saja mengelak ketika aku memintanya untuk melakukan hubungan intim. Ada saja alasan yang dibuatnya untuk menolak. Kadang sedang pusing, kadang sedang sakit perut atau lagi tidak mood. Sudah beberapa tahun ini aku merasa tersiksa karena kebutuhan biologisku tidak bisa dipenuhi oleh istriku. “Mas ..., besok nggak kemana-mana kan?” tanya istriku yang baru keluar dari kamar. “Memangnya kenapa?” “Kan besok hari ulang tahun Mas, jadi besok siang kita makan bersama di luar ya,” sahut istriku manja seraya mengecup pipiku. Harum semerbak parfumnya memenuhi teras ini. “Hari ini Vina ada acara sama ibu-ibu arisan. Kami mau memberikan sumbangan ke panti asuhan, tapi setelah itu ada acara ulang tahun teman Vina, itu lho si Irma janda cantik yang pernah ketemu kita sewaktu di Sun Plaza. Vina izin keluar ya Mas,” pinta istriku. “Ya sudah, tapi lusa Mas ke Jakarta terus ke Bandung, apa nggak ikut ke sana?” “Sepertinya nggak bisa Mas, kan lusa ada pengajian di rumah Mbak Yayuk. Dia minta supaya Vina bantu ngurusin pengajian itu, jadi nggak enak kalau Vina pergi ke Jakarta. Udahan ya Mas, Vina pergi dulu.” Seharian ini aku di rumah saja nggak kemana-mana, paling pergi ke masjid di dekat rumah untuk mengikuti salat fardu berjamaah, sampai istriku pulang pada sore hari bersama temannya. “Kok di rumah aja Mas?” tanya Vina seraya mencium pipiku. “Nggak apa-apa, lagi kepingin di rumah,” jawabku santai. “Oh ya Mas, ini ada Dik Irma. Dia mau lihat foto kami kemarin sewaktu ada acara ketemu sama ibu walikota.” Aku bangkit menyalami teman istriku. Irma memang cantik. Tubuhnya masih terlihat ramping dan berisi walaupun sudah tidak muda lagi. Istriku pernah bercerita, kalau suaminya meninggal karena kecelakaan sekitar tiga tahun yang lalu, ketika itu dia masih berumur tiga puluh enam tahun dan mereka belum memiliki anak, tapi almarhum suaminya meninggalkan warisan berupa sebuah perusahaan angkutan umum yang cukup berhasil. “Sebentar ya Dik. Mbak ambil dulu fotonya,” kata istriku seraya beranjak ke kamar. “Ya Mbak,” sahut Irma ramah. “Silakan duduk Dik,” ucapku. “Terimakasih. Kok santai aja di rumah Mas?” tanya Irma sambil tersenyum manis. “Iya Dik, kemarin kan baru pulang lihat kebun di Riau, jadi hari ini istirahat dulu di rumah. Rencananya lusa mau ke Jakarta.” “Ke Jakartanya sendiri atau bareng Mbak Vina?” “Mungkin sendiri.” “Kalau ke Jakarta kemana aja, Mas?” “Paling ketemu sama teman-teman, ya bicara bisnis kecil-kecilan.” “Terus ngumpulnya dimana Mas?” “Starbuck Cafe di Plaza Indonesia.” “Di jalan Thamrin ya Mas? “Bener Dik.” Ketika kami sedang asyik mengobrol, istriku muncul dari kamar sambil membawa sebuah album foto. Langsung saja dia duduk disampingnya Irma. “Ini fotonya Dik, mau dibawa atau dilihat di sini?” kata istriku sembari menyerahkan album foto itu kepada Irma. “Irma bawa pulang aja Mbak, soalnya ada keluarga yang sedang nunggu di rumah,” sahutnya seraya berdiri dan menyalami istriku. “Irma pulang dulu ya Mas,” ucapnya lembut sambil tersenyum ramah dan menyalami aku. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Tidak ada acara yang istimewa, hanya makan siang bersama istriku. Sekitar pukul sembilan malam, aku naik ke tempat tidur. Kamar tidur memang sudah kupersiapkan untuk suatu acara yang istimewa. Cahaya lampu yang temaram, parfum ruangan yang harum ditingkahi musik yang lembut membuat suasana kamar terasa romantis. Dengan suasana seperti ini mungkin bisa menimbulkan hasrat Vina untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang istri kepada suaminya. Satu jam aku menunggunya dan hampir saja tertidur, ketika Vina naik ke tempat tidur. Dia menarik selimut dan langsung merebahkan badannya membelakangi tubuhku. Hampir sepuluh menit lamanya tidak ada komunikasi di antara kami. “Telepon dengan siapa tadi?” ucapku pelan mencoba memecah kebuntuan. “Mbak Yayuk,” jawabnya singkat. “Mas sudah lama nungguin lho. Mas kangen sama kamu,” ucapku sambil mencoba memeluk istriku. Tapi dia diam saja tidak memberikan reaksi. Kucoba lagi mencium pipinya, sembari membelai rambutnya, tapi Vina tetap dingin, padahal dia sudah mengerti apa tujuanku merayunya malam ini. “Maaf ya Mas, jangan malam ini. Vina lagi sakit perut.” Langsung saja hasratku yang sudah menggebu-gebu turun seratus delapan puluh derajat. Rasanya kepala ini pusing dan badan menjadi lemas. Istriku menolak lagi, padahal hari ini adalah hari ulang tahunku. Harapan yang berbunga-bunga untuk menjadikan hari ulang tahun ini menjadi hari yang istimewa sejak pagi tadi sirna sudah. “Ya sudah, tidurlah” sahutku pasrah. Kuambil guling yang selama ini menjadi teman setiaku setiap malam. Guling ini menjadi tumpuan pelampiasan kekesalanku. Pukul delapan pagi aku berangkat ke Jakarta melalui bandara Kuala Namu. Rasanya ingin cepat melupakan kejadian tadi malam. Kejadian tadi malam bukan baru yang pertama, sudah sering kali istriku menolak ajakan untuk melakukan hubungan intim. Sore ini aku duduk sendirian di Starbuck Cafe di Plaza Indonesia. Beberapa teman yang berjanji untuk ketemu masih belum datang. Sesekali mataku ini memandang liar kepada setiap wanita yang berpakaian mini dan seksi yang lewat di depanku. “Mas ..., lagi sendirian ya?” tegur seorang wanita membuyarkan lamunanku. Wanita itu datang dari belakang, sehingga tidak terlihat sewaktu dia menyapa. Aku memalingkan muka ke belakang, tapi betapa terkejutnya ketika melihat si pemilik suara itu adalah Irma, teman istriku. “Boleh ngganggu Mas?” tanyanya dengan tersenyum ramah. Wajahnya yang cantik ditambah dengan senyumannya yang ramah, membuatku terpana. “Oh boleh, silakan duduk Dik,” jawabku agak gugup, “tapi kenapa bisa ada di sini?” Dia melemparkan senyuman manisnya sebelum menjawab pertanyaanku. “Rencananya besok Irma mau menghadiri pesta pernikahan keluarga di Bintaro, jadi tadi pagi langsung berangkat ke Jakarta.” “Mas ngapain di sini?” “Ada teman mau nawarin kebun kelapa sawit, rencananya mau ketemu di sini, tapi ditunggu dari tadi belum juga datang, mungkin jalanan macet.” “Mas mau beli kebun lagi? Kebetulan kemarin ada yang nawarin kebun, tapi Irma kurang tertarik karena nggak punya pengalaman di perkebunan kelapa sawit. Kalau Mas minat, biar untuk Mas aja,” ucap Irma serius. “Oh ya, berapa luasnya? Mas cari yang luas lima puluh sampai seratus hektar saja.” “Irma nggak ingat, tapi datanya ada di kamar hotel. Kalau minat, biar Irma ambil datanya.” Irma berdiri dari tempat duduknya mau beranjak pergi kekamarnya. “Nanti aja, duduk dululah. Kan baru ketemu. Irma mau minum apa?” “Coffe late aja Mas,” pintanya sambil tersenyum manis. “Ngomong-ngomong, Irma nginap di hotel ini ya?” tanyaku ingin tahu. “Ya Mas, di lantai lima belas,” jawabnya sambil tersenyum lagi. Irma memang cantik, walaupun sudah agak berumur, tapi senyumannya itu tetap menggoda. “Kenapa Mbak Vina nggak ikut, Mas?” Gantian dia yang bertanya. “Dia sedang sibuk, katanya besok ada pengajian di rumahnya Mbak Yayuk dan lusanya ada acara ketemuan dengan ibu walikota,” sahutku agak malas menjawab pertanyaan Irma. “Sering sendirian ke Jakarta, apa Irma nggak takut?” “Ah nggaklah Mas, siapa yang mau ngganggu, Irma kan sudah tua, Mas ini ada-ada aja.” “Siapa bilang sudah tua, masih tetap cantik kok.” Perkataan ini seperti meluncur saja dari mulutku. “Ah Mas ini bisa aja. Mas juga sendirian di Jakarta, apa nggak takut digodain sama cewek-cewek cantik? Di sini banyak sekali cewek cantik yang siap nggodain lho.” Irma balas bercanda. Aku hanya tersenyum, tidak menanggapi candaannya. Tapi mataku sekilas menatap wajahnya dan sepertinya Irma juga sedang menatapku. Ada getaran aneh yang muncul di hatiku. “Oh iya Mas, baiknya sekarang Irma ambil aja data kebun itu,” katanya seraya berdiri dari tempat duduknya. “Apa data itu ada di kamar hotel ini?” tanyaku, “tapi kalau di lantai lima belas jauh juga lho Dik.” “Atau ... kalau nggak keberatan kita lihat saja di kamar hotel, jadi nggak bolak-balik. Gimana Mas?” “Bolehlah ..., kalau begitu biar Mas bayar dulu bill-nya,” Setibanya di kamar hotel, Irma mengambil data kebun yang mau dijual itu dan langsung duduk di sebelahku. Kebetulan sofa yang kami duduki agak kecil dan memang pas untuk berdua, jadi kami duduknya berdempetan rapat sekali, sehingga terasa sekali kehangatan tubuhnya. Pikiranku jadi melayang-layang nggak karuan. Sejak menikah dengan Vina belum pernah sekalipun aku selingkuh dengan wanita lain, tapi kali ini aku berduaan dengan seorang wanita yang cantik dan berstatus janda di dalam kamar sebuah hotel, dan wanita itu bukanlah muhrimku. Oh Tuhan berilah hambaMu ini kekuatan agar tabah dari godaan setan yang setiap saat bisa saja menggoda dan menyesatkan. “Ini Mas, datanya,” ucap Irma membuyarkan lamunanku. Aku meneliti data kebun yang akan dijual itu, ternyata lokasinya jauh dari lokasi kebun kelapa sawit milikku. “Lokasinya terlalu jauh Dik, rasanya kurang cocok untuk dibeli, nanti pengawasannya agak repot.” “Ya sudah Mas, kalau nggak cocok. Irma ambilin minum ya. Nggak terburu-buru kan?” “Nggak Dik.” Irma memberikan fanta dingin dan duduk lagi di sampingku. “Mbak Vina banyak cerita tentang Mas. Irma ini tempat curhatannya Mbak Vina lho.” “Memangnya Vina cerita apaan?” tanyaku penasaran. “Banyak sekali Mas, termasuk yang sifatnya pribadi.” “Pribadi ..., apaan itu?” “Katanya Mas itu semangatnya masih tetap muda. Mas itu seperti harimau muda, sementara Mbak Vina sendiri merasa sudah tidak memiliki lagi gairah untuk melakukan hubungan suami istri, tapi maaf ya Mas kalau Irma cerita tentang hal ini,” kata Irma perlahan. Aku terdiam dan termenung. Kenapa hal ini sampai diceritakan kepada Irma. Gimana sih istriku itu, rasanya tidak pantas menceritakannya kepada orang lain. “Mas ..., kenapa kok diam aja, marah ya sama Irma?” ucapnya perlahan seraya menyandarkan badannya ke bahuku, sehingga dadanya sampai menyentuh lembut ke tubuhku. Dadaku serasa berontak, tanpa sadar aku memandang wajah Irma yang sedang memandangku. Wajah kami dekat sekali, dan lagi-lagi tanpa sadar aku telah memeluknya. Irma juga balas memelukku. Agak lama kami berpelukan, tapi tiba-tiba aku teringat dengan anakku yang kedua, dia yang selalu memperhatikan aku. Wajahnya terbayang dengan jelas seakan menyadarkanku. Dia memang anak yang paling kusayangi, dan sepertinya sedang berkata “Papa sadarlah!” Aku tersadar dan segera melepaskan pelukkanku. “Maaf Dik,” ucapku perlahan. “Irma juga minta maaf Mas,” sahutnya dengan agak malu-malu. Suasana menjadi agak canggung. Lama kami terdiam sampai akhirnya Irma berdiri dan mengambil dua botol aqua dari lemari es. “Mas, minum dulu ya,” katanya sambil menyerahkan satu botol aqua kepadaku. “Terimakasih Dik, tapi jangan marah ya? Tadi Mas lepas kontrol,” ucapku seraya menarik napas panjang. “Nggak apa-apa Mas. Justru Irma yang takut kalau Mas yang marah sama Irma,” sahutnya sambil tersenyum. Sepertinya dia benar-benar tidak marah dan tidak ada masalah dengan kejadian barusan. “Hampir saja kita berbuat dosa Dik.” Kembali aku menarik napas panjang seraya menatap wajahnya. “Maaf ya Mas,” ucapnya perlahan sambil menunduk, “kalau Mas nggak mau berbuat dosa, buatlah diri Irma halal untuk Mas.” “Apa Dik ...?” tanyaku dengan tidak percaya mendengar perkataan Irma itu. “Mbak Vina sering cerita tentang Mas, sehingga Irma mengerti apa yang menjadi masalah Mas. Dan masalah Mas itu juga menjadi masalah yang sama buat Irma.” “Maksudnya apa Dik?” “Selama ini Irma membutuhkan belaian dan kasih sayang seorang pria. Entah kenapa karena sering mendengar ceritanya Mbak Vina. Irma merasa kalau Mas adalah pria yang tepat untuk menjadi suami Irma,” katanya dengan agak malu-malu. “Tapi itu nggak mungkin Dik.” “Mungkin saja Mas. Irma bersedia kok menjadi yang kedua, dan rela tidak akan menuntut apapun dari Mas, kecuali belaian dan kasih sayang. Itu saja,” pintanya serius. Aku terdiam, tidak menjawab permintaan Irma. Ini masalah yang sangat serius dan tidak boleh gegabah. Sampai akhirnya setelah meninggalkan kamar hotel tempat Irma menginap, aku tidak menyetujui atau menolak permintaannya. Hanya saja aku bersukur, karena kami tidak sampai melakukan hubungan suami istri di kamar itu. Puji dan syukur berkali-kali kupanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena masih terlindungi dari perbuatan maksiat. Namun untuk selanjutnya apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar bingung. Pilihan yang ada hanyalah menikah dengan Irma, atau tetap bertahan hidup bersama Vina dengan kondisi imanku yang mungkin semakin lama semakin rapuh. Benteng sekokoh apapun tidak akan mungkin sanggup menahan gempuran air deras yang terus menerus mengalir menghantamnya, suatu saat benteng itu akan bobol juga. Apakah aku sanggup hidup nelangsa terus seperti ini? Apa yang harus kulakukan? Ya Tuhan tolonglah berikan petunjuk kepada hambaMu yang lemah ini, hindarkan hamba dari perbuatan maksiat. Amin! Bersambung ....



from http://ift.tt/1CcMt7O

0 komentar:

Posting Komentar