Minggu, 05 April 2015

Wahyudin Obhot

Fiksi Berat Udin tampak resah gelisah. Dilihatnya jam di hp, rupanya telah lewat tengah malam. "GOD. Jam segini, ke mana hamba harus mencari timbangan?" Udin kembali melihat hp, lalu membuka beberapa grup whatsapp. Barangkali masih ada yang hidup dan bisa membantu. "HELP. Ada yang punya timbangan?" Begitu kira-kira yang udin posting di grup-grup whatsapp. Tak lama ada beberapa teman menanggapi? Meski tulisannya berbeda-beda, namun intinya srmua sama. Bertanya balik sama Udin "Agan bituh timbangan, buat apakah?" Rangkuman pertanyaan balasan di whats app. "Yokaaataaa," balas udin, sok imut kaya di anime. "Ternyata masih banyak yang ol," lanjut udin, senang. "begini Aganwan Aganwati, kondisi ane darurat. Jadi ane bener-bener butuh jawaban, di mana ane bisa nemu timbangan?" "Agan butuhnya buat apakah?" Muncul lagi pertanyaan seperti sebelumnya. "Ane punya, Gan. Kebetulan orang tua punya warung di rumah. Buat apakah kalo ane boleh tau?" balasan lain dari grup whatsapp. "Anu, Gan. Ini berat banget. Ane jadi bingung harus digimanain? Padahal udah ditaruh, tapi tetap saja rasanya berat." "Lah, emang apaan tuh?" "Iya, apaan sih yang berat?" "anuuu, yang berat kepala ane gan." "Ealah, jedotin saja ke tembok, biar pecah berkeping-keping. Dijamin jadi lebih ringan. :v ." jawaban seseorang. Udin pun mengangkat kepalanya dengan dua tangan, lalu dilemparkan ke arah tembok. Tembok pun pecah berantakan. Udin tergeletak tak sadarkan diri. (maksain the end aja deh, udah pucing pala bobot) #plak (-/-)



from http://ift.tt/1C6UGKN

0 komentar:

Posting Komentar