Selasa, 07 April 2015

Umi Ayyash

Perjamuan “Kamu tahu dia punya pacar baru, kan?” “Kemarin dia dibelikan sepatu ....” “Belum kerudung pasmina, bermacam warna ....” “Makanan juga selalu tersedia. Tinggal telepon, datanglah sang arjuna.” “Masih kecil ... tu yang di ujung, malah motor dan hape langsung diterima.” “Pacarnya kaya.” “Kagak. Arjunanya rela jalan kaki.” “Bah! Cinta mati udah.” “Begitulah.” “Dosenku ajib banget. Kalau ada mahasiswa cantik aja langsung ‘hap’? “Wah, apa pula itu?” “UTS kemarin yang cantik-cantik minimal dapat B. Beruntung mereka.” “Eh, jangan suuzhon. Siapa tahu emang pinter.” “Pinter banget. Sampai nggak perlu masuk kecuali ujian.” “Hah?” “Kaget apa pura-pura kaget lu?” “Songong!” “Kemarin aku lihat di depan rumah. Si A sedang marahi pacarnya. Katanya tugas yang dibikinkan nggak sesuai. Itu pacar atau jongos?” “Dia memang mau jadi jongos, menurut apa kata ratu.” “Kayak dia cantik saja.” “Hushh!” “Eh, tahu kan tetangga baru kita?” “Iya. Orangnya tertutup. Anti sosial bingits. Tak bersosialisasi dengan baik.” “Halah barang-barangnya kepegang dikit aja ngamuk-ngamuk.” “Hu um. Kita kan hidup berkelompok, pendatang baru ikuti aturan dong. Masa mau menang sendiri.” “Kemarin pas hujan, jemurannya aku yang ngangkut masuk. Bah! Masak dicuci lagi. Kayak kita najis aja.” “Hah? Segitunya?” “Nggak percaya? Coba aja sendiri.” “Hushh … orangnya datang.” “Ah, biar saja. Memang fakta kok.” “Ada film baru nggak?” “Iya, mending nonton. Sambil ngemil.” “Emang kamu punya uang?” “Bikin bakwan aja, atau tempe goreng … ayam goreng bagus juga.” “Kahkahkah, tempe goreng aja yang murah.” “Harga tempe sebalok, udah naik.” “Belum minyak tanah. Mahal, langka pula.” “Bensin juga naik, buat pergi ke warung.” “Yang penting iuran dulu, guys ….” “Siap! Tapi aku yang masak ya, iurannya ngebon dulu.” “Jiah!” Lili, Lia, Lina, Leni, dan Liana asyik ngobrol di dekat dapur. Rumah besar mereka terdiri dari sepuluh kamar. Sebuah rumah tinggal yang disulap menjadi kos-kosan putri. Dengan penghuni yang banyak itu, selalu ada hal baru setiap hari. Tetangga, dosen, teman, pacar, bahkan benda-benda baru tak luput dari omongan. *** Sepuluh penghuni kos putri hari ini, termasuk Liana, Lia, Lina, Leni, dan Lili. Memakai baju warna-warni. Tas selempang hampir semata kaki. Sandal jepit keluaran tujuh tahun lagi. Wajah segar ceria, sumringah, imut, ngegemesin kayak kelinci. Mengerubung sebuah meja. Seorang nenek tua memotong-motong daging dan menyebarkan di antara mereka. Kemungkinan efek kelaparan, kesepuluhnya makan dengan lahap. Minta tambah. Maklum mereka baru saja pulang memancing. Jalan kaki menuju sungai empat kilo meter. Pulang pergi. Aroma rempah menguar di sekeliling mereka. Tak peduli. “Kenapa pelayannya merengut begitu?” bisik Lia lirih. “Entahlah. Yang penting kenyang,” jawab Leni tak kalah lirih. “Tambah, tambah lagi!” tawar nenek itu, memotong daging lagi dengan cekatan. Mereka berkerumun lagi, seperti semut-semut merubung gula. Daging di depan mereka terlihat seperti kambing guling di atas bara. Ranum. Menggoda. Meneteskan liur sesiapa saja. Lina baru saja mengambil bagiannya. Mundur ke belakang sedikit. Ia sudah agak kenyang. Ketika tak sengaja melihat Laili, salah satu penghuni kos yang pendiam, juga jarang ngumpul bareng, membentuk koloni. Karena penasaran, ia mendekat, “Kamu nggak makan?” Laili mengeleng, tersenyum sedih, “Nggak.” “Kenapa?” “Ah. Maaf.” Lina bertanya-tanya dalam hati. Kenapa. Ah, peduli. Ia bersiap makan lagi. Mulutnya terbuka, daging yang di pegangnya hampir masuk. Ketika ia menyadari sesuatu. Darah. Ya, darah menetes-netes di tangannya. Juga, apa ini? Ia mencermati daging itu. Bukan daging panggang, atau ayam. Hampir pingsan ketika sadar. Jarí. Sebuah jempol dan telunjuk berlumur darah. Oh. Tiba-tiba ia mual. Perutnya bergolak hebat. Ia sempat melihat Laili menjauh. Kerudungnya berkibar diterpa angin. Di sampingnya, teman-temannya masih mengerubungi meja. Berteriak-teriak minta tambah lagi. Sekarang ia sadar, ia dan teman-temannya tak berkerudung. Bagaimana bisa? Mereka selalu memakai kerudung saat keluar rumah. Mereka pergi memancing hari ini. Ah. Lina hampir gila. Dengan terhuyung Lina menerobos maju. Menyibak kerumunan manusia menuju meja. Seonggok tubuh kaku tercabik-cabik di sana. Nenek pelayan itu tetap memotong, mencabik bagian perut. Mengedarkan pada teman-temannya. Lina muntah. “I-itu mayat!” serunya lemas. Berharap teman-temannya mendengar. “Stop ...! Kalian makan mayat. Hei!” Tiba-tiba kerumunan itu berhenti. Lina melihat darah menetes-netes di setiap sudut mulut mereka. Beberapa diantara mereka muntah hebat. Terduduk lemas. Liana menangis. Nenek pelayan itu merengut. “Kalian harus tetap makan!” Suaranya berat. Memerintah. Seketika angin berpusing di atas mereka. Awan hitam bergulung-gulung. “Tidak. Ti-tidak! Tidak mau!” Kali ini, si nenek menyodorkan usus. “Makan ini. Cepat. Cepat!” Perintah itu menghipnotis. Bagaimanapun mereka melawan, tangan mereka bergerak sendiri ke mulut. Memasukkan usus itu, mengunyahnya. Sepotong demi sepotong. Mereka muntah. Menangis. Ngeri. Si nenek menyodorkan paru-paru berlumuran darah, “Kalian sudah terbiasa makan bangkai saudara sendiri, cih! Sekarang sok alim.” Whueeek! Lina muntah. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin. Gila. Benar-benar gila. Bapak, ibu ... maaf, maaf. Allah. Ampuni kami …. Lina memejamkan mata. *** “Lina ….” Suara itu begitu lembut, menenangkan. Lina membuka mata. Gelap. Ada cayaha redup dari jendela. Sayup-sayup suara murottal dari Masjid dekat rumah. “Lin ... bangun.” Suara itu lagi. Ia ada di kamar kosnya. Kecil. Pengap. Baú buku apek. Ah, bergegas ia berdiri. Meregangkan tubuh. Membuka pintu. Menemukan Lili dalam balutan mukena. “Jangan molor,” ancam Lili. Lina nyengir lebar, “Siap, Diajeng.” “Jah! Buruan wudhu. Ikut jamaah nggak?” “Sip.” Bergegas Lina menyambar handuk, melangkah ke kamar mandi. Dalam sekelebatan ia ingat darah. Jarí-jari, usus, mayat. Lina mual. Muntah. Sebonggol tulang keluar bersama isi lambung. “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ....” Leni yang ada di dapur, tergopoh-gopoh mendekat, “Kenapa, Lin?” suaranya khawatir. “Tu-tulang ....” Lina menunjuk lemas. Tiba-tiba mayat tercabik-cabik terpampang jelas di netranya. “Tadi malam kamu makan ceker kebanyakan, sih,” desis Leni. “Istirahat dulu. Aku buatkan minuman hangat.” Ah, kebiasaan menggunjingkah sampai mendatangkan mimpi mengerikan tadi malam? Lina ngeri. Berjanji tak akan lagi. *** “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari kesalahan orang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12) Terinspirasi dari mimpi seorang teman. Ibirite, 060415 0917 #Umi_Ayyash



from http://ift.tt/1HHfSvE

0 komentar:

Posting Komentar