#KBMA Season 3 Stage 1 Jalan Pulang Oleh: Salmah Lukmana Butiran air masih menggantung di ujung daun, menandakan sisa hujan semalam. Udara sejuk menyelimuti desa, menyusup ke dalam tiap bilik rumah. Danu menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya, berulang kali ia melakukannya, menghirup udara segar yang lama tak ia rasakan. Matanya menerawang, memandangi pepohonan hijau di pelataran rumah. Sesekali meneguk kopi yang ada di atas meja. Membawanya ke cerita masa lalu. *** "Danu, bapak berangkat duluan ya." Bapaknya berpamitan sembari memakai topi camping dan mengambil rantang berisi makanan yang sudah disiapkan. "Kamu habisin itu singkongnya. Jangan lupa pintu rumah ditutup kalau mau pergi sekolah." "Iyo Pak, ndak kepagian Pak perginya? Inikan masih jam 5." Danu mengikuti langkah bapaknya dari belakang. "Yo ndak Dan. Biar rezeki ndak dipatok ayam. Rezeki itu yo harus kita jemput to? Semakin semangat jemputnya semakin banyak rezeki yang datang. Bukan malah nunggu dia datang sendiri, yo ndak bakal ada," bapak tertawa kecil, "yasudah bapak pergi dulu, nanti kesiangan." "Iya Pak, hati-hati ya Pak." Danu mencium tangan bapaknya kemudian memberikan cangkul yang sedari tadi ia pegang. Ia memandangi punggung bapaknya yang terus melaju ke depan sampai tak terlihat di telan gulita. Kemudian masuk ke dalam rumah dan bersiap berangkat ke sekolah, memakai seragam putih abu, lalu menyandangkan tas di bahunya. Tak lupa ia mengunci pintu seperti pesan bapaknya. Kemudian melangkah pergi berjalan menuju sekolah yang berjarak dua kilo meter dengan sepatu lusuh yang sudah berusia dua tahun. *** "Ini Pak kopinya." Danu meletakkan segelas kopi di atas meja teras rumah. Bapaknya sedang mengatur nafas sambil mengipas-ngipaskan topi camping ke tubuhnya. Sesekali menyeka keringat di wajah. "Makasih Dan. Bagaimana sekolahmu tadi?" "Emm ..., baik Pak." "Alhamdulillah." "Emm .... Pak, Danu mau tanya. Bagaimana menurut Bapak kalau Danu melanjutkan sekolah ke kota?" Bapaknya yang sedang meneguk kopi langsung tersedak mendengar pertanyaan Danu." Eh, kenapa Pak?" Danu menepuk-nepuk punggung bapaknya "Sudah, sudah, bapak ndak papa." Sambil menjauhkan tangan Danu dari punggungnya, "Bapak cuma kaget dengan pertanyaanmu itu Dan. Kenapa kamu berpikir begitu?" "Pak, Danu mau mencoba memperbaiki nasib. Berjuang menjadi perantau di kota, yo ndak ada salahnya to Pak? Kita ndak mungkin hidup begini terus." Bapaknya diam sejenak, lalu menjawab, "Dan, apa kamu tega ninggalin bapak sendiri? Bapakmu ini sudah tua Dan. Yo bapak ndak bisa ngelarang kamu. Tapi coba kamu pikirin lagi. Di sini juga kamu bisa hidup to? Mengurus sawah, memancing, dan masih banyak hal lain yang bisa kamu lakukan. "Tapi Pak, Danu hanya mau berusaha untuk hidup yang lebih baik. Kalau pun Danu nanti pergi, danu janji akan sering jenguk Bapak." "Dan, dengerin bapak. Orang kampung itu, kalau sudah pergi ke kota ndak bakal ingat sama kampung halamannya, udah terlena sama suasana kota. Boro-boro kamu mau sering jenguk bapak, yang ada kamu ndak ingat jalan pulang ke sini." "Tapikan Pak," "Ah sudahlah bapak mau mandi." Lalu beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah. Danu tertunduk lesu mendengar jawaban bapaknya. Ia paham betul dengan kekecewaan yang tersirat dalam kata-kata bapaknya. Di rumah sederhana itu, mereka hanya tinggal berdua. Ibunya telah pergi tujuh belas tahun lalu sama persis dengan usia Danu sekarang. Semua hal mereka kerjakan berdua. Satu hal yang mengganggu pikirannya, bapaknya akan merasa kesepian jika ia tinggal pergi. *** Pagi ini tak seperti biasanya. Tak ada obrolan hangat antara Danu dan bapaknya. Keduanya larut dalam diam. Bapaknya pergi tanpa pamit, hanya meletakkan ubi goreng di atas tikar lusuh sebelum berangkat. Sedangkan Danu masih duduk di dalam kamar, sesekali ia berbaring di tempat tidur, mengubah-ubah posisi bantal di kepalanya. Ia terjaga semalaman, memikirkan obrolan kemarin. "Semarah itukah Bapak?" Danu bertanya dalam hati. Danu lalu pergi ke belakang rumah melihat puncak gunung yang berdiri kokoh tertutup kabut. Lamat-lamat ia memandangi, lalu wajahnya mengguratkan senyum, entah apa yang ada dipikirannya. Hal ini selalu ia lakukan ketika hatinya gelisah. Menghirup udara sejuk di belakang rumah, sambil mencari ketenangan. *** Danu mencari kayu bakar di lereng gunung. Mengutip kayu-kayu kering kemudian diikat jadi satu dengan kayu yang ia bawa. Setelah itu Danu bergegas pulang, melewati hamparan sawah dan sungai kecil yang melengkapi keindahan desanya. Sesekali ia berteduh di bawah pohon, menikmati semilir hembusan angin sambil menyeka peluh yang mengalir. Tiba di depan rumah, Danu mendapati bapaknya sedang bersiul dengan burung murai kesayangannya. Danu berhenti sejenak tanpa berkata, lalu meneruskan langkahnya ke dalam rumah menaruh kayu bakar di dapur. Dilihatnya nasi dan lauk pauk yang sudah tertata rapi di atas tikar. Keningnya mengkerut menyiratkan tanda tanya. "Duduklah Dan." Suara bapaknya tiba-tiba mengagetkan dari belakang. Kemudian duduk di atas tikar dan diikuti oleh Danu. "Makanlah Nak." "Iya Pak." Danu menyendok nasi ke dalam piringnya juga meletakkan rebusan daun singkong, sambal dan ikan asin. Lalu menyantapnya dengan lahap. "Dan," Bapak Danu memecah keheningan, "Setiap orang itu punya mimpi, termasuk bapak. Bapak telah mendapatkannya meski ada hal berharga yang harus direlakan." "Memangnya mimpi Bapak apa?" Ia meletakkan gelas yang isinya tinggal setengah. "Kamu Dan, kamu adalah wujud dari mimpi bapak dan ibu. Bapak bahagia memiliki kamu meski bapak harus merelakan ibumu. Bapak ndak bermaksud melarang kamu untuk punya mimpi. Bapak hanya takut kamu bakal melupakan bapak. Maafkan bapak Dan, sekarang semua terserah kamu. Kalau kamu memang mau merantau ya sudah, bapak meridhoimu Nak. Asal kamu ingat Dan, jangan sampai melupakan semua pesan bapak." "Bapak serius?" Bapak Danu mengangguk sambil mengguratkan senyum di wajahnya. "Sebenarnya Danu kemarin mau menyampaikan sesuatu sama Bapak. Danu dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di kota Pak. Danu juga janji akan ingat semua pesan Bapak." "Alhamdulillah, semoga Allah meridhoimu Nak. Ini bapak ada sesuatu buat kamu." Bapaknya menyodorkan bungkusan plastik berisi kepingan koin dan lembaran uang kertas. "Itu adalah tabungan bapak. Memang tidak seberapa, tapi Insya Allah bermanfaat. Gunakanlah sebaik-baiknya." "Terima kasih pak." Danu langsung memeluk erat bapaknya. *** "Pak, jaga diri baik-baik ya, Danu pergi Dulu. Do'akan Danu ya Pak." "Iya Nak, pergilah. kamu juga jaga diri baik-baik. Ingat semua pesan bapak jadilah orang yang jujur Nak." "Iya Pak, Danu pamit. Assalamu'alaikum." Sembari mencium tangan bapaknya "Wa'alaikumsalam" Danupun berlalu membawa mimpinya, meninggalkan jejak sepi kepada sang bapak. *** Danu bangkit dari tempat duduknya, melihat sangkar burung, tempat burung murainya dulu bersarang. Tak ada perubahan berarti setelah 3 tahun kepergiannya ke kota. "Kamu sedang apa Dan?" "Eh, ndak Pak. Hanya nostalgia sama masa lalu." Danu tertawa kecil, "Pak, maafkan Danu ya. Danu ndak bisa memegang janji untuk sering menjenguk Bapak. Danu baru bisa kembali sekarang." "Sudahlah Dan. Setidaknya bapak senang kamu masih ingat jalan pulang ke sini." Bapak tersenyum simpul sembari menepuk-nepuk bahu Danu, "Ya sudah ayo kita sarapan. Bapak sudah siapkan makanan yang enak untuk kamu." "Iya Pak, ayo." Danu merangkul bahu bapaknya dan Masuk ke dalam rumah bersama. Medan, 07 04 15
from http://ift.tt/1xYUtxR
from http://ift.tt/1xYUtxR






0 komentar:
Posting Komentar