Bismillah ... "Generasi Perintis Perjuangan" (part 2) --------------------------- Oleh : Rahma Syarif Hidayatullah Hari semakin senja, air mata yang sedari tadi mengalun kini mulai tak menampakkan sendunya lagi. "Kita sudah sampai, Nak, mari turun!" Abah mematikan mesin mobil, dan mengajak Alif turun. Alif mulai bingung, tak biasanya Abah mengajak pergi ke tempat seperti ini. Baginya ini adalah hal yang baru. "Ini di mana, Bah?" "Jangan banyak tanya, ayo ikut! Abah akan tunjukkan sesuatu padamu," Abah dan Alif melanjutkan perjalanannya, menyusuri jalan menanjak dihiasi dengan bukit-bukit teh yang indah di samping kanan kirinya. Alif hanya terdiam, tak berani berucap sepatah kata kepada abah. "Subhanallah ... subhanallah ... subhanallah ...," tak henti-hentinya bibir Alif bertasbih memuji Sang Khalik, karena sangat takjub melihat indahnya alam semesta di perbukitan ini. Senja mulai terlukis, Alif pun semakin terkagum-kagum kepada Sang Khalik. "Indah ya, Nak!" Abah menghentikan langkahnya seraya mengumbar senyum lebar ke hadapan Alif. Kini wajah Alif mulai terlihat cerah lagi, secerah lukisan senja di depan matanya. "Enggih, Bah," Alif tersenyum. "Tahukah kamu kita sekarang berada di mana, Nak?" Alif menunduk patuh sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya. "Lihatlah bangunan itu!" "Itu candi nggih, Bah?" "Ya ...," Abah tersenyum. "Itu adalah candi cetho, Nak," lanjut abah seraya melihat bangunan klasik candi yang sangat menawan. "Cetho ...? jelas, Bah?" sahut Alif keheranan. "Betul sekali itu. Berdoalah kepada Sang Khalik semoga kita selalu diberi kejelasan dalam mengarungi hidup ini, Nak!" "Enggih, Bah!" Di sini Alif mulai merasakan hal yang tak biasanya ia rasakan. Ini adalah hal yang luar biasa bagi Alif. Ya! ini adalah pengajaran alam yang sebenarnya, gumam Alif dalam hati. Alif kembali berfikir me-review perkataan-perkataan Abah dari awal memulai perjalanan sampai di tempat ini. "kenapa Abah mengajakku ke tempat ini, setelah menjelaskan maksud beliau tentang pesantren kepadaku? berawal dari penerus sampai candi cetho yang berarti jelas?" "Mari ikut Abah!" ajak abah memecah lamunan si Alif. Tanpa berucap sepatah kata Alif langsung mengikuti langkah abah. "Mari kita ambil wudhu dahulu, sehabis sholat maghrib abah akan mengajakmu ke candi bagian atas," "Enggih, Bah," Setelah usai sholat maghrib berjamaah, dengan bermodalkan lampu senter Abah dan Alif kembali menjejakkan kakinya untuk menuju bangunan candi bagian atas. Suasana terasa sunyi mencekam, hanya terdengar gesekan-gesekan ranting dan dedaunan di iringi siulan burung yang sesekali berdendang. Bulu kudu Alif mulai berdiri, Alif pun sedikit merasakan ketakutan. Dia mengeratkan gandengan tangan abah. "Kau takut, Nak?" Alif hanya menyimpulkan senyum di bibirnya. Tangga demi tangga telah terlewati dan akhirnya sampai juga ke tempat yang dituju. "Mari kita masuk!" Abah memasuki ruang bangunan candi itu sambil menarik tangan Alif. Tanpa banyak berfikir dan bertanya Alif pun terus mengikuti langkah dan perintah abah. "Lihatlah itu, Nak!" abah menyorotkan senternya ke arah batu yang di hadapannya. "Sebagian orang jawa biasa menyebut batu ini sebagai ka'bah jawa," "Ka'bah jawa, Bah?" "Ya, inilah yang dinamakan ka'bah jawa," Alif mangut-mangut keheranan, kok ada juga ya ka'bah jawa. "Mari kita keluar lagi!" ajak abah. "Duduklah!, Abah akan sedikit memberimu penjelasan mengapa Abah ajak kamu ke candi ini," Abah dan Alif pun duduk berdua di salah satu anak tangga candi. "Candi cetho ini merupakan candi peninggalan Raja Brawijaya ke-V, Nak. Di sini terdapat banyak sejarah tentang keberadapan tanah jawa serta nusantara. Brawijaya ke V adalah Raja yang arif bijaksana pun mulia," "Raja Brawijaya itu islam, Bah?" "Ya, buktinya tadi kamu lihat ada ka'bah jawa di candi ini,kan?" "Tapi mengapa tadi sore banyak orang hindu yang beribadah di sini?" "Seiring berjalannya waktu, banyak fakta sejarah yang telah hilang maupun dibalik faktakan. Abah juga tak mengerti, candi ini tidak seperti dulu lagi, sekarang candi ini lebih dikuasai oleh umat hindu dari pada umat islam," Alif terlihat sangat memperhatikan penjelasan abah dengan sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya dan kadang juga menyeritkan dahinya. "Abah harap kamu bisa menjadi pemimpin seperti Raja Brawijaya ke-V," pandangan abah mulai menyorot ke masa depan. "Brawijaya ke-lima Jayabaya kediri kalau ingin jadi sakti jangan perkewuh! 'A' katakan 'A', 'B' katakan 'B'! selalulah berbuat baik, jujur, manajemen, sosial, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya, Nak! Janganlah kamu sekali-kali merugikan orang lain, jadilah orang yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara, minimal kamu tidak merugikan diri sendiri!" Begitulah nasihat abah kepada Alif. Abah sangat berharap Alif bisa mengikuti jejak perjalan para raja wali yang arif bijaksana. "Jadilah pemimpin yang berjiwa kalifah, Nak! seorang kalifah itu tidak tahu bahwa dirinya adalah seorang kalifah apalagi orang lain. Tawakallah pada Sang Khalik, bersandarlah selalu pada-Nya. Itiba'lah kanjeng Nabi! Nabi pedagang, petani, pengusaha, kamu juga harus bisa berdagang, bertani, dan berusaha. Jika kamu telah menjadi bocah angon, jangan sampai kamu membebani angonanmu. Makanlah dengan harta dari keringatmu sendiri, jangan sampai kamu menjual ayat apalagi menjual umat, Nak!" Alif hanya menunduk patuh mendengarkan dan menelaah wejangan dari abah. Pandangan Alif mulai menerobos masuk ke masa depan, membayangkan begitu sangat beratnya memikul amanah sebagai generasi perintis perjuangan ini. "Bah, apakah Alif mampu menjalankannya?" Abah tersenyum sembari tangan mengelus rambut Alif. "Kamu pasti bisa, Nak! yakinlah, Allah selalu bersama orang-orang yang mau berusaha. Mau tidak mau, kelak kamu akan menjadi generasi penerus perjuangan Abah. Selalu sampaikanlah keakbaran Allah dan kemurahan Allah. Tegakkanlah agama Allah di muka bumi ini, Nak! Abah yaqin kamu pasti bisa jika kamu adalah orang yang beriman dan bertakwa," Alif pun terdiam, menatap masa depan yang bersebut sebagai harapan. Jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. "Hari sudah malam, Nak, mari kita pulang!" Abah pun menggandeng tangan Alif sambil menuruni anak tangga. Alif sangat bersyukur, hari ini dia mendapatkan pelajaran yang sangat luar biasa. Dia berdoa semoga kelak bisa menjalankan harapan-harapan yang abah sampaikan tadi demi menegakkan agama Allah. Setelah sampai di rumah, bakda menjalankan shalat isyak Alif pun langsung merebahkan tubuhnya di atas lantai beralaskan tikar. Alif kembali men-tadzabur pengajaran-pengajaran yang disampaikan abah tadi. Angan mulai melayang jauh, jauh ... entah kemana sampai mata menutup perlahan-lahan. *** Nb: pelajaran-pelajaran dalam cerita terinspirasi dari wejangan Abah (pimpinan pondok) di pesantren tempatku bersekolah. //Sragen, 4-4-2015// note : yang belom baca part 1, jika minat silahkan klik link ini :-D → http://ift.tt/19ScUIU **Mohon krisannya ya kakak-kakak yang baik hati serta tidak sombong....!! hehhe. :-D
from http://ift.tt/19ScUIU
from http://ift.tt/19ScUIU






0 komentar:
Posting Komentar