Sabtu, 04 April 2015

Rahma Boniez

Semangat pagi sahabat KBMers ^_^ Lagi belajar nulis cerita edukasi nih...! Mohon Krisannya ya sahabat, yang pedas sekalian, sudah siap air seember kok ^_^ Gusti dan Keluarga Aqil Jam berdenting menunjukkan pukul delapan malam, aroma ayam goreng yang di masak ibu begitu menggugah selera, memancing nafsu makan Gusti yang baru saja pulang les Matematika. "Bu, Gusti mau makan. Lapar banget, sejak di tempat les perut sudah kriuk-kriuk," seru Gusti pada ibu yang sedang menyiapkan makan malam. "Iya Nak, ini sedang Ibu siapkan. Ayam goreng spesial kesukaan kamu," kata ibu dengan senyum menghias bibir. "Ah, kok ayam goreng lagi Bu? tadi siang juga ayam, bosan," sahut Gusti memonyongkan bibirnya. "Beda sayang, tadi siang kan pepes ayam ... !" "Gak mau Bu, Gusti maunya pizza. 'Delivery' ya Bu," cetus Gusti merajuk. "Lain kali ya Nak, sekarang ayam goreng dulu. Mubazir loh ... sudah dimasak gak dimakan," terang ibu merayu agar Gusti mau makan. Tanpa menghiraukan ucapan Ibu, Gusti meninggalkannya dan menuju halaman rumah. Ia duduk di kursi, yang posisinya persis menghadap jendela dapur rumah Aqil teman sekolahnya. Terlihat Mak Jumy ibunya Aqil sibuk mengaduk secangkir teh, berkali kali denting sendok terdengar beradu dengan tepian cangkir. Lalu Mak menyuguhkan teh itu pada Bapak Aqil yang sedang melepas lelah di balai depan rumah. "Mak, bukankah tadi Emak mengaduk teh ini cukup lama? Bapak kira pakai gula," tanya bapak heran karena teh yang di hirupnya sangat tawar. "Maaf ya Pak, persediaan gula kita habis. Uang belanja dari Bapak, Emak sisihkan buat Aqil bayaran sekolah. Kasihan anak kita Pak, dia mau ujian." "Iya gak apa-apa Mak, tanpa gula pun asal Emak yang buat, teh ini nikmat," jawab bapak dengan tenggorokan yang mulai kencang. Angin malam mengembus sepoi-sepoi, Bapak duduk melamun di kursi kayu dekat kolam ikan. Ya Alloh..manusia macam apa aku ini? tak becus menjadi suami dan Bapak yang baik untuk Anakku, secercah bahagia saja sulit kuberikan untuk mereka. Batin bapak menggema meratapi ketidak mampuannya. "Pakde Nanang, ngapain duduk sendirian? gelap gelapan lagi ... !" seru Gusti tiba-tiba mengagetkan bapak Aqil. "Oalahhh kamu toh Le ... ! Bikin kaget Pakde saja. Lagi ngadem Le, sumuk awake, kowe bar nangis toh Le?" sahut bapak Aqil. "Iya Pakde, kesal sama Ibu. Tadi Ibu nyuruh makan, Gusti minta pizza tapi gak boleh. Bosan Pakde makan ayam terus, emangnya Upin Ipin!" seloroh Gusti mengadu dengan membulatkan bibirnya. "Ojo ngono, kowe kudu syukur," tegas bapak Aqil menasehati, "ndak semua bisa merasakan sepertimu Le," tambahnya lagi. "Aduh! Pakde gak ngerasain sih gimana rasanya makan ayam terus, disayur, digoreng, ditumis. Pokoknya Gusti bosan Pakde. Sekali kali tuh Gusti maunya makan pizza, burger, spagethy." Ucapan Gusti seakan menoreh perasaan Bapak Aqil, pekerjaannya sebagai buruh di perkebunan memang belum bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Untuk makan mereka mengandalkan kebun di belakang rumah, bahkan kerap berhutang di warung Mbok Sirah. Bagaimana mungkin ia bisa menyediakan ayam yang termasuk makanan mewah setiap hari. Tetiba Aqil menghampiri Bapak dan Gusti yang sedang ngobrol, "Pak, kata Emak ada uang buat beli mie instant gak?" tanya Aqil. "Di caping Bapak ada uang dua ribu, beli saja satu mie instant," jawab bapak Aqil tersenyum. "Kan beriga Pakde, kok beli mie instannya cuma satu. Mana cukup!" tutur Gusti bingung. "Insya Alloh cukup Le, kan kuahya banyak. Makannya juga pakai nasi, pokoke kudu syukur biar berkah," jawab bapak Aqil tegas. "Bersyukur gimana Pakde? mie instant satu buat bertiga, masih kurang kan Pakde!" tukas Gusti tidak mengerti sikap bapaknya Aqil. "Coba kowe minum teh buatan Emak, nikmat banget Le," ujar bapak Aqil dan tanpa ragu Gusti langsung menghirup teh itu, betapa ia sangat terperanga merasakannya. "Tehnya tawar Pakde, apanya yang nikmat? ya ndak enak toh Pakde, teh hangat itu kan enaknya manis, Ibu sering bikin buat aku," tegas Gusti begitu merasakan teh tawar yang jauh dari kata nikmat. "Kalau kita menuruti keinginan pasti ndak cukup, ndak enak, dadi kudu tanamkan di hati rasa syukur itu biar semua dadi enak, nikmat dan cukup." Gusti tidak menjawab sepatah kata pun hanya menyeringitkan dahi. Seketika tak ada obrolan antara bapak dan Gusti, mereka hanya duduk menatap gemerlap langit yang di taburi bintang. Sampai akhirnya Emak memanggil untuk makan. "Kowe durung mangan Le?" tanya emak pada Gusti yang ikut nimbrung di balai. "Durung Bude, ndak nafsu" jawab Gusti tak semangat. "Yo weis, mangan bareng sini Le ... !" ajak emak Aqil pada Gusti. "Matur suwun Bude, ndak usah." sahut Gusti menyunggingkan senyum. Gusti begitu terkesima melihat keluarga Aqil, yang begitu bahagia menikmati makan malam dengan lauk semangkuk mie instan yang di campur sayuran. "Bude, tadi kan mie instannya cuma beli satu. Kalau airnya banyak gitu, terus di tambah sayuran, apa ada rasanya bude?" celetuk Gusti ketika melihat mie yang di hidangkan emaknya Aqil. "Ditambahkan garam toh le biar lebih enak," tutur emak sambil tersenyum di susul tawa renyah Aqil dan bapaknya. Pikiran Gusti melayang berusaha mempercayai apa yang dilihatnya, tentang dirinya yang tidak pernah bersyukur padahal berkecukupan, bertolak belakang dengan keluarga Aqil yang selalu berusaha bersyukur di tengah kekurangan. Bahkan sekedar untuk membeli gula saja keluarga temannya itu sering tidak mampu. "Gusti, kamu les Matematika dimana?" tiba-tiba Aqil bertanya menyadarkan Gusti dari lamunannya. "Eh..ehmm...di Bimbel Bu Ambar Qil, kenapa? Kamu mau les juga ... !" "Hehee...ndak Gus, pasti mahal. Ndak mampu Orangtuaku bayarnya, buat bayar ujian ajah Emak harus menyisihkan uang belanja," jawab Aqil tersenyum, "lagian seandainya ada uangnya juga sayang, lebih baik untuk kebutuhan lain." Tambah Aqil lagi semakin mengembangkan senyumnya. "Kamu kan pintar matematika Qil, jadi bukan masalah kalau ndak les. Lah ... klo aku ndak les, apa jadinya nilai ujian aku nanti?" terang Gusti menjelaskan. "Biasa ajah Gus, kamu juga kan pintar Bahasa Inggris. Ah, ya! kamu mau ndak bantu aku belajar Bahasa Inggris, kita barter. Aku ngajarin kamu Matematika, intinya kita belajar bareng." "Good Idea Qil, kita belajar bareng ajah ya, jadi aku ndak usah les," cetus Gusti senang dengan usul Aqil. Sekitar jam setengah sepuluh Gusti meninggalkan rumah Aqil, ia ingin bergegas tidur karena besok pagi harus sekolah. Begitu masuk rumah, ia melihat Ibu duduk di ruang tamu menunggu dirinya pulang dengan wajah cemas. "Bu, maafkan Gusti ya, ndak menghargai apa yg sudah ibu masak, padahal susah masaknya." "Iya Nak, ndak apa-apa. Ya udah sebelum tidur makan dulu ya. Ibu sudah order Pizza, tadi kan kamu minta." "Iya Bu, tapi makan pakai ayam goreng buatan Ibu ajah. Oh, iya tadi waktu ngambek aku main di rumah Aqil. Mereka makan nasi dengan satu mie instan untuk bertiga. "Masa sih Nak, apa cukup satu bungkus bertiga?" Tanya Ibu seakan tidak percaya. "Kata Pakde Nanang, klo kita beryukur dengan rezeki dari Alloh Ta'alla, Insya Alloh sekecil apapun itu pasti berkah dan cukup." "Nak, itu pizza kan banyak. Sebagian kasih Aqil saja, kamu kan ndak mungkin habis. Ibu juga ndak doyan, enak singkong rebus," tutur ibu di selingi tawa yang cukup sumringah. "Siap Bu, tapi besok pagi saja ya! Buat sarapanku sama Aqil." Pagi ini mentari bersinar cerah, Gusti bangun dengan wajah ceria. Tanpa paksaan Ibu, ia bergegas mandi dan selepas berpakaian ia langsung bergegas ke rumah Aqil untuk membawakan beberapa potong pizza yang sudah di hangatkan ibu. "Assalamualaikum Aqil ... selamat pagi!" sapa Gusti di depan rumah temannya. "Wa'alaikummusalam Gus, masuk sini," Ujar Aqil menjawab salam Gusti. "Gak usah deh Qil, aku cuma mau antar Pizza buat kamu sarapan," sahut Gusti ramah. "Alhamdulillah, terimakasih ya Gus...!" "Iya sama-sama Qil, oh iya nanti habis maghrib kita belajar bareng ya. Aku sudah memutuskan tidak ikut les lagi," cerocos Gusti memberi tahu Aqil. "Oke Gus, Insya Alloh." Sesuai sholat Maghrib Gusti langsung bergegas ke rumah Aqil dan pamit pada Ibunya. "Bu, Gusti ke rumah Aqil dulu ya, mau belajar bareng." "Lho, kamu ndak les Nak? nanti ketinggalan materi." "Astagfirulloh ... maaf Gusti lupa Bu, mulai hari ini ndak ikut les di Bimbel lagi. Belajar bareng sama Aqil saja, dia kan pintar Matematika," kata Gusti menjelaskan alasannya pada ibu. "Apa ndak merepotkan Aqil Nak? kasihan dia kan mau belajar juga." "Gak Bu, jadi Aqil mau ngajarin aku Matematika, terus aku ngajarin dia Bahasa Inggris. Ibu bisa tolong aku,ngomong sama ayah? bantuin biaya buat Aqil masuk smp," cerocos Gusti dengan senyum begitu lepas. "Alhamdulillah Nak, klo kalian bisa saling membantu dalam belajar, nanti Ibu bicarakan dengan Ayah masalah biaya sekolah Aqil. Oh iya Ibu titip sembako ya buat keluarga Aqil." "Iya Bu, siap! Terimakasih ya, Gusti sayang Ibu dan janji tidak akan ngambek lagi," seru Gusti kemudian memeluk wanita istimewa di sampingnya, sambil mencium pipi kanan dan kirinya. Ibu sangat bahagia melihat perubahan sikap Gusti yang menjadi semakin baik, ia sama sekali tidak menyangka kalau kesederhanaan keluarga Aqil bisa membawa pengaruh begitu luar biasa. Gusti menjadi lebih lembut dalam bersikap, bisa bersyukur dan berbagi dengan sesama. Rahma Boniez ^_^



from http://ift.tt/1Hxi0Gb

0 komentar:

Posting Komentar