KBMA #3 Stage 1 Dusun Berjalan di bawah langit gelap. Dengan hati santai, kusisir jalan dengan telanjang kaki. Ini sudah biasa. Bahkan terasa nyaman. Hingga hal yang tak terduga-entah karena gelap atau sekadar kecerobohanku-datang menimpa. Masa itu, bukan mimpi. Aku bisa merasakannya. Bintang-bintang bersaksi, seonggok tubuh terjun membelah angin malam. Ya, itu tubuhku. Tak ada yang terdengar kecuali air terjun dan teriakanku sendiri. Mereka bercamput aduk memekakan gendang telinga. Tak ada pengaman, tak ada yang menangkap, hanya tanah berhinggapan rumput yang menyambut. Sebuah kecelakaan yang tak mampu kuhindari. -*- "Hey, Nak. Jangan berlari. Nanti terjatuh." Suara Ayah meluncur kala aku yang masih kecil, berlarian di tengah ladang gandum. "Ayah! Ayo kejar aku," ajakku mengabaikan nasihat beliau. Canda, tawa serta permainan kejar-kejaran kami membanjiri ladang Ayah. Kiri, kanan, kiri, kanan, kulewati batang-batang tumbuhan yang mulai menguning ini. Tingginya hampir sama denganku. Mungkin Ayah merasa kesulitan menemukan tubuh ini. "Berhenti, Nak." Suara Ayah lagi yang melesat cepat hingga mampu menjamah telinga anaknya. Rasa lelah memaksa sepasang kakiku melambat. Mengecilkan jarak antara pengejar dan yang dikejar. Hingga terlambat kusadari sebuah batu -mungkin memang sudah lama sekali- yang bersembunyi di tanah. Membuat tubuhku setengah melayang akibat tersandung lalu menindih beberapa gandum tak bersalah. "Kena kamu!" Sepasang tangan sawo matang yang disinggahi bulu-bulu menerkam tubuhku. "Anak nakal." Kemudian telinga ini yang menjadi sasaran berikutnya. "Ayah, sakit," ucapku walau dicampuri tawa renyah. Sungguh aku suka saat-saat yang seperti ini. Beliau berbaring di sebelah, mengajak mataku terbang menemui awan putih dengan latar belakang biru cerah. "Nak, menurutmu, awan itu bergerak tidak?" tanya Ayah. "Eh?" Kutatap lebih dalam lagi gumpalan-gumpalan putih di atas sana. "Mereka diam, Yah." Tiada suatu pembenaran, ataupun bantahan akan kekeliruan. Beliau hanya menumpahkan tawa demi tawa yang selanjutnya terbang dibawa angin. Mengapa? "Bernar kan, Yah?" tanyaku, berusaha mengambil perhatian sepasang mata yang masih terpejam girang. Ayah langsung berhenti. Sesaat diam. Yang terdengar hanya embusan angin. Sisanya suara kawanan gandum yang menari. Tak jarang mereka saling bersinggungan. "Kalau gunung itu?" Telunjuk ayah meluncur ke sebelah kanan kami. Membuat dua tubuh di ladang memiring. Kalau itu sih sudah jelas. "Tidak bergerak." "Alasannya?" Lho? Alasan. Gunung itu memang dari sananya tidak bergerak, kan? Ah tidak! Tiada asap tanpa api. Hanya saja ... apa alasannya? Kuperhatikan baik-baik selama belasan detik. Tetap saja, buntu. "Aku tidak tahu. Memangnya apa, Yah?" "Karena, awalnya gunung bisa bergerak. Karena itu, setiap kali dia bergerak bisa merusak apapun yang lebih kecil darinya. Pernah ada salah satu gunung yang sangat besar. Dia merusak pohon ara. Lalu sang peri marah dan mengutuk semua gunung agar tidak bisa bergerak. Jadilah gunung yang seperti sekarang ini," jelasnya panjang lebar. "Benarkah?" tanyaku polos. Beliau malah menyambung kembali tawa yang sempat padam. "Tentu saja tidak, anakku." Ah! Si Ayah. "Kalau gandum-gandum ini?" tanya beliau, sekali lagi. "Bergerak." "Alasannya?" Aku berputar hingga kami saling berhadapan. "Karena ditiup angin." "Bukan. Karena mereka memang hidup." Jujur, aku benar-benar tidak mengerti maksud ketiga pertanyaan Ayah ini. Yang awan pun tidak beliau jawab. "Mungkin suatu saat kamu akan mengerti, Nak," sambung Ayah seraya mengacak-acak rambutku. -*- Ini aku yang sekarang. Tidak bisa bergerak seperti gandum. Hanya menjelma gunung yang menelan bulat-bulat rasa bosan. Tetapi harus bersyukur masih bisa hidup walau tubuh kerap dihampiri debu. Menghabiskan hari hanya menindih kasur dalam kamar seadanya. Ditemani puluhan utas perban. Oh, aku lupa, ada sarang burung juga yang setia berada di atap rumah. Kicaunya mampu menghibur telinga. Dan aku hanya bisa melihat dunia dari jendela kamar. Dunia apa sajakah yang hadir pada mata? "Hey, Nak. Kau mau?" Tanya Ayah di halaman sambil menunjukkan buah anggur padaku. Hanya itulah duniaku. Memandangi sesosok lelaki tegap yang semangat merangkai sulur anggur. Indah sekali. Aku jadi teringat akan ibu. Beliau duduk di belakang seraya mengepang rambut yang panjang ini. "Hey, Nak. Kenapa melamun? Nanti cantikmu luntur, lho!" Ah, si Ayah. Tahu saja aku sedang melamun.
from http://ift.tt/1yQMUEk
from http://ift.tt/1yQMUEk






0 komentar:
Posting Komentar