LOSARI: Hujan Belati Kenang Oleh: Lia Zaenab Zee 1/ LOSARI: Masih 'kan basah tapak dalam kenang. Ego muda, menyala di kening kita. Asa meluap 'tak terbendung. Matahari dalam pelukan. Bara sebara rona pipi beliaku. Keringat searoma geloramu 2/ Aku adalah keindahan, pualam. Dan kamu adalah benteng, patung. Dua kokoh yang batu. Di pertemukan Tuhan dalam leleh rindu yang hujan. Datang bersama musimnya menghujan, telak! 'tak bisa menghindar 3/ Aku menjadi lebur dalam kamu. Dan kamu menjadi seiya dalam aku 4/ Hujan menyerta lebur dalam kita. Lalu melupa badai bagian dari hujan 5/ Kala badai, kilat tak mesti menyerta. Tapi aku lupa kamu adalah hati yang bersanding dengan kilat. Dan aku bukan setabah awan penadah amukan kilat. Aku awan penantang badai 6/ Selepas badai. Kita retak tiada bentuk. Saling berpura-pura utuh kokoh di kisah masing-masing. Sekian tahun menanam kesombongan di dada yang tegap. Seakan rindu tak 'kan punya belati yang sedang terasah waktu. 7/ Di usia yang kesekian. Rindu rampung mengasah belati kenang lalu menikamkan ke jantung. Menyelesaikan dendam rindu yang terpasung. Berdarah 8/ Di suatu penanggalan. Menerima warta tentang perjalanan abadimu. Sebuah diary sebuah kisah. Namaku bersama 'rindu' abadi jua di dadamu pula. Makassar, 07 April 2015 __________
from http://ift.tt/1HKmiKg
from http://ift.tt/1HKmiKg






0 komentar:
Posting Komentar