Selasa, 07 April 2015

Jojo Disini

Trend batu akik di tamini square bag. 2 : beli akik bonus asap rokok. Tangisku akhirnya pecah, tak bisa lagi aku menahan emosi yang meluap- luap, seperti kayu yang terbakar semakin besar api menggelegar. Tapi aku tak bisa meluapkan, marah itu tertahan. Rasanya tercekik, sakit sekali tenggorokanku. Dan aku berusaha meredamnya dengan susah payah mendinginkan otakku, air mata begitu saja mengalir deras aku sesenggukan dengan tisu basah berserakan di meja. Sulit sekali menerima ketidakberdayaan. Begitu lemah dan tak dipedulikan. Bukan kali pertama aku mendatangi pengelola mal tamini square untuk memprotes para perokok di toko batu akik di lantai 1. Bukan hanya aku sendiri, walaupun tak semua orang peduli tapi masih ada sedikit dari kami yang menyadari pentingnya menyelesaikan masalah ini. Sering aku tarik nafas panjang dulu sebelum sampai di meja customer service, aku hanya ingin menjaga harga diriku agar tak mengamuk saat itu. Beberapa hari ku ulangi lagi karena tak ada tanggapan yang berarti dari pengelola, dan hasilnya sama saja. Hanya selebaran yang aku terima, selebaran di larang merokok di tempat umum. Apa itu membuat para perokok jera? Nyatanya tidak. Malah semakin parah. Poster larangan merokok hanya di pasang di depan lift dan di tembok yamg jauh dari area perdagangan batu akik itu. Wajar saja mereka para perokok tak menyadari poster besar itu. Atau mungkin mereka sudah tuli dengan seruan customer service, dan mereka buta tidak bisa membaca tulisan di poster. Mungkin, itu sangat mungkin. Aku dan beberapa teman yang mengalami nasib yang sama sebagai penjual pakaian yang harus terkena imbas dari asap rokok bisa jadi mulut kami sudah berbusa karena komplain yang tak dapat tanggapan. Mengelus dada saja yang bisa kami lakukan. Padahal kami penyewa sudah lama dengan pembayaran rutin tanpa potongan dan kami memulai usaha, mengenalkan toko dari nol. Sedangkan pedagang batu akik itu di datangkan dengan promo sewa 1 tahun gratis 1 tahun, itu pun sewanya di bayar di tahun kedua. Apa itu pantas mengorbankan kami yang lebih dulu mencari nafkah disini. Sungguh aku tak mau berpandangan subjektif dan iri dengan kegiatan mereka. Justru dari awal aku salah satu orang yang optimis dan menyambut baik promo itu, demi keramaian mal tamini square. Tapi aku sama sekali tidak menyangka akan berbonus hal menyakitkan seperti ini. Jika hanya suara bising mesin pengasah batu, sungguh aku bisa maklum, kami sama- sama mencari nafkah. Maka tidak aku komplain sedikitpun tentang suara itu. Tapi untuk masalah rokok aku sama sekali tak punya alasan untuk toleransi. Bagaimana tidak, pakaian dagnganku berbau asap rokok, bagaimana aku jelaskan pada pelanggan ?. Resiko gangguan kesehatan yang sudah pasti mengintai, dari masalah pernafasan, kulit dan lainnya. Awalnya aku perjuangkan untuk kesehatanku, terutama rekan kerjaku yang sedang program hamil, lalu ada ibu- ibu yang bisa dibilang nenek masih rajin mengurus tokonya, tapi ia menjadi emosi juga karena rokok itu mengganggunya,sedangkan beliau berusaha untuk menjaga pola hidup sehat. Lalu setelah aku tahu aku hamil, dan usia kandunganku baru 7 minggu dengan kista 4,8cm yang seharusnya aku lebih bisa berhati- hati terutama dalam hal kesehatan, mau tak mau harus ikut menikmati asap rokoknya sehari penuh. Jika ada yang bertanya, kenapa harus ke toko, udah tau lagi hamil muda?. Aku tak meminta belas kasihan, aku tak meminta untuk di mengerti, tapi ini adalah usaha ku, usaha rekan- rekanku yang lain dalam mencari nafkah. Dan bukan aku atau rekanku yang harus mengalah. Sengaja kami memilih berdagang di mal karena salah satu pertimbangannya adalah masalah rokok ini. Mungkin jika kami berdagang di pasar, kami tidak akan protes. Tapi ini mal, yang gedungnya di lengkapi alat pendingin ruangan dan aku menghirup udaranya seharian penuh. Apa yang bisa dibayangkan? Asap rokok itu mengepul dimana- mana!. Apa ada cara lain selain aku menangis sesenggukan sendiri, setelah berbagai upaya komplain aku lakukan. Bahkan suamiku bolak- balik kantor pengelola. Sekarang yang aku fikirkan bukan hanya daganganku, bukan bu dena yang sedang menjalani pola hidup sehat karena sudah tua, atau mbak marni yang sedang hamil. Tapi tangisku karena janin yang ada di rahimku yang sedang berjuang untuk berkembang. Yang aku sebagai ibunya tak bisa menghindar dari lingkungan kotor ini. Bagaimana aku bisa menahan tangisku, nafkah aku cari disini untuk kelangsungan hidup ku dan keluargaku, untuk kebutuhan kami. Yang kami mulai dari nol dan tidak mungkin kami mengalah begitu saja. Lalu alasan apa yang bisa menahan tangisku? Karena saat ini aku tidak bisa sama sekali meminta bantuan dan perlindungan pada pengelola mal tamini square untuk membuat suasana kondusif seperti semula. Tolong lah gugah rasa toleransinya, kami sudah bersusah payah menjaga kesehatan kami, sangat tidak adil kalian merusaknya begitu saja. Ingin sekali rasanya memindahkan asap- asap itu ke kantor pengelola, yang setiap aku masuk ke ruangan itu dalam keadaan bersih dengan ac yang segar dan dingin. Bagaimana kalau asap itu aku pindahkan kesana saja pak, bu? Supaya bapak dan ibu sama- sama merasakan aromanya. Sama- sama merasakan sesaknya. Karena tidak adil, sekali lagi tidak adil kalau hanya kami yang menjadi korbannya.



from http://ift.tt/1yaZqnH

0 komentar:

Posting Komentar