Sabtu, 04 April 2015

Elisa Dwi Susanti

#Event_Karyaku Bismillah ... ikut meramaikan ultah ulya meskipun mepet DL :) ================================ Riasan Wisuda Oleh:Elisa D.S. Kasih berjingkat-jingkat menuju ke kamar. Dilihatnya sekilas ibu sedang sibuk membuat pola baju di atas koran. Celengan dari kaleng biskuit yang ada di atas rak buku sudah berpindah tempat ke tangan gadis manis berkerudung putih itu. "Alhamdulillah, semoga lebih dari cukup," ujar Kasih perlahan. Dihitungnya lembar demi lembar rupiah yang terkumpul dari hasil kerja keras membuat gorengan. Gadis yang kuliah di salah satu PTN favorit di Surabaya itu memang pintar membagi waktu. Pagi sampai siang kuliah. Sore hari sibuk di dapur membuat pisang goreng dan weci untuk disetor ke warung sebelah. Hasil yang diperoleh cukup lumayan. Bisa untuk menambah uang saku dari ibu. Sebagian disisihkan untuk ditabung. Saat remaja seusianya bersenang-senang di kafe atau jalan-jalan ke mall selepas kuliah, Kasih sibuk berkutat dengan gorengan. Dia tak sadar, sepasang mata renta mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Bu Narti melihat putrinya dengan haru, kemudian mundur tiga kali dengan berjingkat tanpa menimbulkan suara, kembali ke aktifitas semula. Semenjak perceraian dengan ayah Kasih lima belas tahun silam, Bu Narti bekerja keras tanpa kenal lelah. Mantan suaminya itu tidak pernah mengirim nafkah untuk putri mereka. Tak ada sedikit pun tanggung jawab dari laki-laki tersebut kepada si buah hati. Beruntung, dia memiliki ketrampilan menjahit. Menerima orderan baju dari tetangga kanan kiri. Pesanan baju akan membanjir saat mendekati tahun ajaran baru dan lebaran. Sampai-sampai Bu Narti harus menolak orderan yang datang. Kualitas jahitannya yang halus sudah mendapat tempat di hati para pelanggan. Sedikit demi sedikit, upah yang diterima disisihkan sebagian. Setelah terkumpul beberapa tahun kemudian, mesin obras pun bisa terbeli. Dari hasil menjahit itulah, wanita paruh baya ini bisa menyekolahkan Kasih hingga perguruan tinggi. "Bu, uang segini cukup kan untuk membeli kain kebaya?" Kasih mendekati ibunya seraya memberikan sejumlah uang. "Simpanlah, Nduk*. Ibu punya sesuatu untukmu." Bu Narti beranjak dari tempatnya dan menuju lemari di sudut ruangan. Diangsurkannya kebaya warna jingga dengan hiasan payet di lengan dan bagian bawah, serta sebuah sarung songket merah marun ke tangan Kasih. "Ibu sudah menyiapkan ini untuk wisudamu nanti. Uang tabungan itu, simpanlah untuk kebutuhanmu. Ibu tidak memerlukannya." "Bu ... terima kasih." Kasih menghambur ke pelukan Bu Narti dengan mata berkaca-kaca. "Rencananya, kamu akan berhias di salon mana untuk wisuda nanti, Nduk?" "Ibu saja yang meriasku, ya? Seperti biasanya waktu acara Kartinian dulu." "Yakin? Kamu kan tahu kalau Ibu cuma punya lipstik, bedak, perona mata dan pipi saja. Eyeliner dan bulu mata palsu nggak ada." "Justru itu, Bu. Aku mau riasan yang sederhana tanpa bulu mata pasangan, karena hal itu haram dan pemakainya bisa dilaknat Allah. Selaras dengan Hadist Nabi mengenai pengharaman pemakaian rambut palsu. Jadi, berhias pun ada caranya, harus sesuai dengan tuntunan syar'i." "Subhanallah ... pintar sekali anak ibu sekarang." "Alhamdulillah, siapa dulu dong ibunya. Bu Nartiiiii ...." Kasih terbahak-bahak. Bu Narti bersyukur sekali, meskipun tumbuh tanpa didikan seorang ayah, putri semata wayangnya menjadi anak sholihah seperti harapan semua orang tua. Wanita paruh baya ini sadar bahwa pembinaan agama dan penanaman akhlak sedari awal dari lingkup keluarga akan membentuk karakter seorang anak di masa yang akan datang. Gresik, 3 April 2015 Jumlah kata termasuk judul: 506 kata. *Nduk = Genduk, panggilan untuk anak perempuan di Jawa. **Alasan mengapa ingin jadi penulis karena ingin menebar pesan kebaikan yang bermuatan agama maupun moral melalui tulisan. Cc: Ulya Fathiya



from http://ift.tt/19ZzVKx

0 komentar:

Posting Komentar