#KBMA Season 3 (Stage 1) JANGAN JADI PERAWAT DI SEKOLAH! Oleh: Afina Yasmine Pagi selalu memberikan harapan baru. Begitulah kata pepatah yang syahdu. Kokok ayam mulai terdengar nyaring. Dinginnya kota Malang membuat orang-orang kembali menarik selimut untuk melanjutkan mimpi. Namun keadaan itu tidak berlaku untuk Renata, bocah kelas satu SMA. Bahkan jika diadakan lomba siapa yang lebih dulu bangun, Renata ataukah ayam? Renatalah sang juara. “Ren, apa kamu masih belajar?” Tanya Ibu Renata. Ibu selalu memberikan pertanyaan yang sama setiap pagi. Maklum, Renata harus membantu Ibunya berjualan nasi sebelum berangkat sekolah. Sedangkan Deandra kakak Rena, sudah lebih dulu berangkat. Deandra harus menempuh perjalanan dua jam untuk mencapai sekolah tempatnya mengajar. Lalu bagaimana dengan ayah? Ayah mereka telah lama berpulang, saat Rena masih kelas tiga. “Iya Bu, sebentar.” Terdengar suara Renata menjawab pertanyaan Ibu. Dengan sigap Renata membantu Ibunya berjualan. Dituangkannya sendok demi sendok sambal pecel pada pring-piring nasi yang sudah ditata sang Ibu. Bagi Renata melayani pembeli merupakan kebahagiaan tersendiri, seolah-olah dia merawat pasien. “Ren, sana ganti bajumu. Sudah siang, jangan sampai kamu terlambat.” Ibu mengingatkan Rena. “Iya Bu. Oh ya Bu, di Sekolah Renata sedang ada pendaftaran PMR Bu, Renata boleh daftar ya Bu?” Tanya Rena di sela-sela pekerjaan Ibunya. “PMR? Apa itu Ren?” Pertanyaan Renata dijawab dengan Tanya pula oleh sang Ibu. “Itu lo Bu, Palang Merah Remaja. Kegiatannya tentang kesehatan Bu. Siapa tahu besok Renata bisa jadi perawat Bu. Bisa menolong orang lain.” Jelas Renata. “Jika itu membuatmu baik dan tidak mengganggu pelajaranmu, Ibu dukung.” Jawab Ibu. “Terima kasih Bu. Renata janji akan menjadi kebanggaanmu, Ibu.” Renata mengucap janji dan memeluk ibunya. “Hus. Sudah lepaskan pelukanmu. Malu dilihat pembeli.” Ibu merenggangkan badannya dari pelukan Renata. Izin ibu membuat Renata sangat bahagia. Sepanjang perjalanan gadis itu tersenyum sendiri. Bayangan satu tahun, dua tahun dan entah berapa tahun ke depan telah berkelebat dalam angan. “Ren, kok senyum-senyum sendiri.” Sapa Dina. “Coba tebak, hal apa yang bisa membuatku tersenyum seperti ini?” Renata mengedipkan matanya, pertanda dia ingin menggoda si gadis cerewet itu. “Aah, Rena. Ayo cerita dong. Kamu habis dapat undian ya?” Dina bertanya. Dina lebih suka memanggil pemilik mata sayu itu Rena. Lebih mudah dilafalkan. “Bukan. Tampangku kan bukan tampang ikut undian Din.” Tukas Rena. “Lalu apa? Cerita ya, cerita.” Mohon Dina. “Ndak mau,” Rena berlari-lari kecil “Ibu, berikan izin untuk ikut PMR.” “Renaa,” Kejar Dina sambil berteriak, “Aku bahagia.” Senyum lebar menghiasi wajah keduanya. *** Hari kenaikan kelas telah tiba. “Rena, kamu masuk sebelas apa?” Dina bertanya, penasaran. “Sebelas IPA satu,” belum sempat Rena menanyakan kelas si centil itu, tiba-tiba “Huaaaa. Sama. Yey.. Kita memang tidak terpisahkan Ren.” Peluk Dina erat-erat. “Lepaskan, pelukkanmu menyesakkanku.” Canda Renata. Begitulah hari-hari mereka lalui tak lepas dari senyum, tawa dan canda. Renatapun lebih bersemangat menggapai mimpinya. Tak ayal jabatan ketua PMR disandangnya. “Ren, hari ini kamu tugas ya?” Tanya Dina. Untuk melatih kesiap-siagaan peserta ekstrakurikuler PMR, setiap hari Senin mereka ditugaskan dibelakang peserta upacara. Tugas itu dibagi secara bergiliran. “Iya Dina. Kamu tidak tugas kan? Segera ke barisanmu. Nanti dimarahin pak guru.” Si mata sayu itupun mengingatkan pada Dina. Upacara bendera dimulai. “Hiduplah tanahku Hiduplah negriku Bangsaku Rakyatku semuanya Bangunlah jiwanya Bangunlah badannya Untuk Indonesia Raya” Belum selesai lagu cipta karyaW.R. Supratman dinyanyikan tiba-tiba, “Bruk!” Renata, yang paling dekat dengan suara jatuh tersebut segera menghampiri, “Dina. Din. Dengarkan aku.” Dibantu oleh beberapa orang temannya Renata mengangakat tubuh kecil Dina menuju ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah). “Din. Dina. Dengarkan aku, kalau kau mendengarkan aku pegang erat tanganku.” Pinta Renata. Tidak ada respon, Renata mulai berkaca-kaca. Dituangkannya minyak kayu putih ke tangan kemudian dioleskan ke seluruh tubuh Dina. Dina memang memiliki riwayat sakit asma. “Din, pegang tanganku. Pegang Din, kalau kamu mendengar suaraku.” Air mata mulai terjatuh di pipi Renata. Teringat jelas kepergian seseorang yang sangat dicintai Renata, ayah. Sang ayah menghembuskan nafas terakhir tepat di sisinya. Saat Renata dan ayah menyeberang jalan hendak membelikan Renata mainan, tiba-tiba sebuah truk menabrak mereka. Renata selamat. Dan kali ini, desah nafas Dina membuat memori itu terbuka kembali. Renata mulai merasakan ada yang memegang tangannya. “Ren. Rena.” Suara lirih Dina membuat Renata menghembuskan nafas lega. “Alhamdulillah, Dina,” Renata menghapus sisa air mata di pipi, “ Tetap degarkan suaraku Din. Kamu sehat.” Upacara benderapun selesai. “Rena, kamu mau kembali ke kelas?” Tanya Putra teman sekelas kedua sahabat tersebut, yang kebetulan bertugas. “Belum Putra, tolong sampaikan kepada Pak Guru,. Aku masih mau menemani Dina.” *** Suasana kelas hari ini berbeda, Pak Dardiri mulai memanggil satu persatu nama yang tertera di presensi tersebut. “Dina Alfiya.” “Sakit, Pak.” Jawab murid mereka bersama. “Renata Putri Yasmine.” “Sedang menunggu Dina Pak.” Jawab Putra seorang diri. “Kebiasaan si Renata. Kemarin terlambat gara-gara bertugas, hari ini menunggu orang sakit. Bilangin sama Renata, kalau mau jadi perawat ya di rumah sakit sana. Jangan di sekolah. Pelajaran hari ini selesai!” Suara pak Dardiri menunjukkan amarah yang terpendam. Kemarahan pak Dardiri sontak mengagetkan seisi ruangan. Renata kembali ke kelas, setelah jam pak Dardiri usai. Dengan perlahan Putra menyampaikan apa yang terjadi di kelas tersebut. “Seperti itu salah? Itu namanya menolong orang. Apalagi orang yang aku tolong sahabatku. Bagaimana bisa aku meninggalkannya? Bagaimana? Di mana hatinya?” Seketika itu pula Renata memuncak amarahnya. *** “Assalamu’alaikum, Renata pulang.” Sapa Renata lemas. “Wa’alaikum salam, kenapa kamu Ren, kok lemas begitu?” Tanya sang Ibu. “Tidak apa Bu, Mbak Deandra sudah pulang?” Renata bertanya tentang kepulangan kakaknya. “Itu di dalam kamar.” Jawab Ibu. Renata memasuki kamar Deandra, kemudian berceritalah apa yang terjadi di sekolahnya. “Dik, kira-kira adik marah tidak kalau punya anggota yang jarang masuk? Terlepas dari apa alasannya?” Tanya Deandra dengan nada lembut. “Marahlah Mbak, itu namanya tidak komitmen. Namanya tidak bertanggung jawab. Bla.. Bla..” Jawab Renata. “Kira-kira begitu yang terjadi sama Pak Dardiri, beliau sudah semangat mengajarkan ilmu. Sedangkan Adik? Bukan berarti beliau tidak punya hati Dik, bukan. Beliau sangat peduli padamu, pada masa depanmu,” belum selesai Deandra menjelaskan, “tapi caranya itu Mbak, yang membuat adik kecewa.” Tukas Renata. “Adik, setiap cinta terurai dengan nada yang berbeda. Setiap orang punya sifat sendiri-sendiri. Coba renungkan Dik, kalau posisimu seperti Pak Dardiri bagaimana? Kira-kira sakit tidak?” Renata mulai merenungi ucapan bijaksana sang Mbak. “Iya, Mbak, pasti sakit yaa? Baiklah Renata besok akan meminta maaf pada beliau. Renata berjanji akan lebih berhati-hati dalam bersikap. Terima kasih, Mbak.” Renata melepaskan senyum ikhlasnya. *************************************************************** Bunga selasih ditanam dipinggir Disampingnya lagi ada kenikir Terima kasih telah mampir Bolehlah jempol tanda hadir Bunga mawar bunga kamboja Bunga kamboja berkelopak lima Yey, cerpen saya sudah dibaca Krisan-krisan ditunggu berbunga Bunga mawar berwarna biru Biru memancarkan tentang rindu Jikalau krisan telah layu Bolehlah kripik biar seru
from http://ift.tt/1GjniIa
from http://ift.tt/1GjniIa






0 komentar:
Posting Komentar