KBM Academy Stage 1 (Babak Penyisihan Kesebelasan) 'Membuat Cerpen dari Puisi' Sulur Anggur dan Pohon Ara Oleh: Dini Nurhayati (Dinu Chan) Luz memandangi pria itu dengan ekor mata. Tangannya masih sibuk membuat adonan roti dari tepung gandum. Sementara sosok yang baru sekian menit lalu masuk rumah tersebut, sudah keluar lagi dengan beberapa perkakas dalam genggaman. Kepala Augusto mengarah sekilas pada jam dinding. Sudah lewat tengah hari, batinnya. Lalu, masih dalam diam, dia mencabik-cabik salah satu petak kebunnya di halaman depan rumah. “Kira-kira harus kuapakan ayam-ayam itu?” ujar Augusto setengah berteriak. ”Ya, Sayang …?” Luz melongokkan kepala. “Daun-daun pohon anggur ini sudah bermunculan. Imut sekali. Dan ayam-ayam tetangga kita barangkali sangat asyik mematukinya tadi. Apa sekarang ayam juga memakan daun, Luz?” “Oh!” pekik Luz. “Tadi aku berencana mulai memagari tanaman anggur yang baru itu. Tapi masih tersita dengan adonan ini. Maaf, Sayang ….” Luz memelas. “Kau tak ingin makan siang dulu, Sayang? Biar kupanggilkan Dido agar makan siang bersama-sama …,” ucap Luz lagi sembari melepas celemek. Augusto menghentakkan sekopnya ke tanah terakhir kali. Diikuti dengusan kesal. Saat beberapa menit kemudian Luz datang bersama Dido, ia tak tahan lagi untuk mengeluarkan buncahan dalam dada. “Apa kau begitu susah melepas seragam itu? Atau pulang dulu ke rumah usai sekolah?” ditatapnya Dido. “Di mana dia tadi?” kali ini pada Luz yang menyibukkan diri dengan menata piring-piring. Bibir wanita itu menyungging resah. Diliriknya Dido. “Aku di bukit dekat ladang gandum, Ayah …,” “Biar kutebak, di bawah pohon ara?” “Di antara hamparan tanaman gandum dan rumput luas, di mana lagi tempat yang teduh, Ayah?” “Rumahmu …,” “Bisa kita nikmati dulu makan siang ini?” Luz segera memotong kalimat Augusto. Berada di tengah-tengah dua pria yang saling sindir begitu, apa bisa dikatakan nyaman? Apalagi keduanya adalah belahan jiwa. Usai makan siang Augusto kembali sibuk dengan sulur anggur. Dido memperhatikan. “Mereka kau kepang begitu cantik, Ayah!” puji Dido dari kursi beranda. Lalu asyik dengan buku dan pena. “Kalau aku anak perempuan, cemburuku pasti sudah sangat menggunung,” gumamnya kemudian. Tepat dengan teriakan Augusto dari ujung sana. “Bantu ayahmu ini sebentar, Dido!” “Ah, biar ibu saja … lanjutkan kerjaanmu,” cegah Luz dari dalam, menghentikan gerakan Dido yang akan mendekati ayahnya. Remaja 14 tahun itu lagi-lagi hanya dapat memerhatikan ayah-ibunya mengurusi kebun anggur berdua. *** “Luz, aku sungguh harus mengatakan ini,” ucap Augusto, saat suami-istri itu di peraduan. Hening malam belum bisa membuat gelayut di pikirannya terdiam. “Sepertinya aku sudah sangat sederhana soal hidup. Sesederhana pekerjaanku sebagai pedagang. Sesederhana mimpiku juga, usaha ini nanti dilanjut anak kita … yang cuma satu itu.” Luz terdiam, membiarkan suaminya menyelesaikan kata-kata. Tangannya mengusap-usap bahu Augusto. “Ahh, tapi Dido kita tak tertarik dengan semua itu. Ia lebih senang berada di bawah pohon Ara, melepaskan pandangan ke segala. Lalu menuliskan entah apa. Aku putus asa, Luz.” “Kau tahu, Suamiku?” ucap Luz membuka suara. “Saat kau ke pasar seperti biasanya, Dido pernah membantuku mengurusi benih-benih anggur yang baru. Dan pada daun-daunnya yang juga baru muncul. Bagian yang kau temui layu kemudian … sejak itu, dia merasa berkebun, menjadi petani anggur dan pedagang bukanlah hal-hal yang ditujukan untuknya.” Panjang lebar Luz bercerita. Manik mata Augusto menyiratkan kata tanya “sungguh?” dan Luz mengangguk. “Ah, iya, satu lagi. Pekan depan Dido akan mewakili sekolahnya dalam perlombaan membaca puisi. Sebelumnya, pementasan drama kelas garapan anakmu itu jadi yang terbaik. Mau tahu tentang apa?” Luz memberi jeda. “Buah ara. Monster buah ara tepatnya.” Luz tertawa kecil. “Oh, ya, tentu. Aku jadi teringat, saat dia masih sekolah dasar. Dia melihat tetangga kita membelah buah ara, mirip mulut monster merah dengan gigi-gigi runcing yang tajam, begitu ucapnya. Jadi, imajinasinya memang sudah berbeda sejak kecil.” Luz tersungging, mengakhiri cerita. Dan begitu mengintip wajah Augusto, lelaki itu sudah terpejam. Mirip putranya usai mendengar dongeng sebelum tidur saat masih kanak-kanak dulu. *** Luz cepat-cepat menuang air dari teko saat mendengar langkah kaki Augusto mendekati pekarangan depan. “Haaah, hari ini melelahkan sekali, Luz.” Augusto menghempaskan tubuhnya di kursi kayu. “Beruntung aku tidak harus mengurusi tunas anggur yang dirusak ayam-ayam lagi. Ke mana mereka?” tanyanya seraya mengibaskan topi berulang-ulang. “Mungkin mereka akhirnya bosan, menyerah. Karena tidak berhasil mencongkel biji-biji anggur dari dalam tanah kita. Apa kau ingin makan siang sekarang, Sayang?” Luz mulai bersiap membungkus rambutnya dengan secarik kain segitiga dan topi. “Di luar terik sekali. Biar aku saja yang ke pohon ara …,” ucap Augusto seraya beranjak. Tangan Luz seketika terhenti lalu mengangguk, menatap suaminya dalam. Hingga punggung itu menjauh, melintasi ladang menuju hamparan rerumputan. “Kita memang harus berdamai dengan banyak hal, Suamiku ….” Lirih Luz berujar. Sementara di sana … Dido terhenyak. Hampir-hampir ia terjatuh dari batu tempatnya duduk di bawah pohon Ara. “Inspirasi baru apa lagi yang sudah kau dapat dengan memandangi gunung itu?” Dagu Augusto menunjuk segitiga raksasa tanpa menatap sang putra. “Aku tidak terbiasa membocorkan ide sebelum rampung, Ayah …,” Dido mengerling. Entahlah, ia hanya merasa saat itu ia sudah bisa melempar canda sebenar-benar canda pada Augusto. “Hmm, baiklah. Aku bisa bersabar untuk apapun.” Tangan kiri Augusto menepuk perlahan bahu Dido. “Dia sungguh Pencipta yang sempurna. Gunung, langit, awan, hamparan tanaman gandum berseling rumput, pinus lalu pohon ara ini … benar-benar komposisi yang menakjubkan, bukan? Tapi aku tak pandai merangkai kata sepertimu, Nak.” “Bagaimana aku tidak tumbuh dengan mencintai untaian kata, Ayah? Kalau kau dan ibu membesarkanku di lingkungan dan suasana seperti ini?” “Herannya, mengapa itu tidak terjadi pada temanmu?” Dido tertawa kecil mendengarnya. “Kecintaanmu pada tempat ini tak bisa kuhentikan. Karena, mereka sangat menginspirasi, betul?” “Tak selalu inspirasi itu terbit dari gunung. Sulur anggur dan punggungmu bahkan memberiku inspirasi menggores puisi, Ayah ….” Dido menatap Augusto takzim, pula penuh cinta. Dan Augusto, bukan tak menangkap tatapan tersebut. Ia sedang menahan sesuatu di pelupuk matanya, dengan pandangan menyusuri puncak gunung, ujung pinus, hamparan rumput, gandum sampai ke atap rumah sederhana mereka dan kebun anggurnya. “Boleh aku meminta satu hal, Ayah? Aku semakin beranjak dewasa. Bisakah kau dan ibu tidak memanggiku dengan nama kecil Dido? Tapi Sena.” Kali ini Augusto yang tersenyum. Bahu Dido semakin keras ia tepuk dan rengkuh. “Oh, baiklah, Jorge Candido de Sena!”[] Fin, Sleman, 6 April 2015
from http://ift.tt/1C9vZxe
from http://ift.tt/1C9vZxe






0 komentar:
Posting Komentar