Selasa, 07 April 2015

Dian Hariani

*MiniFiksi* Pencuri Sepotong Roti Oleh : Dian Hariani “Kejar bocah itu!!” suara wanita berbadan subur itu berhasil merebut perhatian para pejalan kaki. Seketika mereka ikut mengejar tanpa menanyakan alasannya. “Dia pencurinya! Tangkap dia!” sekali lagi wanita itu membakar semangat para pengejar bak seorang provokator bayaran. Budi, bocah laki-laki yang memegang bungkusan plastik berwarna hitam itu semakin ketakutan. Dia mendekap bungkusan itu sambil berlari sekuat tenaga untuk menghindari amarah warga. Peluh bercucuran membasahi bajunya yang lusuh. Kakinya mulai lelah, nafasnya pun terengah. Di sebuah persimpangan, seorang satpam dengan wajah garang telah mencegatnya. Rupanya dia satpam bank yang ada di sebelah toko roti milik wanita itu. “Berhenti! Mau lari kemana kamu?” Budi pun pasrah dalam cengkraman tangan kekar Pak Satpam. Tak lama kemudian wanita yang diketahui pemilik toko roti Bunda Bakkery itu tiba di persimpangan bersama dengan warga lainnya. ”Nah, ini dia Pak, Bu, pencurinya. Nih, lihat! Roti ini hasil nyuri di toko Saya,” ucapnya sambil menunjukkan isi bungkusan plastik itu kepada warga. Roti tawar ‘Bunda Bakkery’ dengan lebel harga Rp.9.900,-. “Ti tidak, Bu. Saya tidak mencuri. Sumpah!” ”Alah pake sumpah-sumpah. Ni buktinya apa?” Semua yang menyaksikan kejadian itu cuma geleng-geleng kepala, entah memaki wanita itu atau prihatin dengan Budi, si pencuri. ”Bawa dia ke kantor polisi saja,” suara lantangnya bagaikan petir di siang bolong. Budi terdiam tanpa kata. Hanya raut ketakutan yang tersisa. Berkata jujur pun tak mungkin dipercaya. ”Bu, ini cuma roti. Mending kita kembalikan saja pada orang tuanya. Kali ini kita sudah memberi pelajaran untuk dia. InsyaAllah dia jera, nggak akan mengulangi lagi perbuatannya,” ucap Pak Satpam memberi penjelasan. Rupanya dia tidak setuju dengan keputusan wanita itu. ”Nanti kalau dia mencuri lagi, Bapak mau tanggung jawab?” “Iya, Saya tanggung jawab,” tegas Pak Satpam. Lelaki berbadan tegap itu merasa iba menatap ke arah Budi yang berlinangan air mata. Akhirnya wanita itu luluh juga. Budi pun digiring pulang. Sementara beberapa yang lain bubar meneruskan aktifitas masing-masing. Di ujung sebuah gang, rumah kecil berpagar bambu nampak lengang. Temboknya retak, kayu penyangga atap pun terlihat rapuh, halaman yang ditumbuhi rumput juga tak terurus. Budi menuju ke sana diikuti oleh yang lain. Para tetangga menatap heran, apa yang sedang terjadi? ”Assalamu’alaikum.” Perlahan Budi membuka pintu. Di kursi panjang yang terbuat dari bambu, seorang wanita tergeletak tak berdaya. Wajahnya pucat pasi. Di meja nampak beberapa obat. ”Ibu, maafkan Budi ....” Wanita yang dipanggil ibu itu terkejut tatkala melihat Budi pulang didampingi beberapa orang. Dia berusaha bangun, meraih Budi dalam peluknya. Semua mata menatap iba melihat ibu dan anak saling berpelukan. Suasana hening seketika. ”Ada apa ini, Nak?” ”Anak Ibu mencuri di toko Saya.” Tiba-tiba suara lantang memecah keheningan. ”Apa itu benar, Nak?” ”Tidak, Bu. Budi tidak pernah mencuri. Mereka tidak tahu yang sebenarnya.” Tangis Budi pecah seketika. ”Maaf, Bu. Saya tidak pernah mengajari anak saya mengambil barang orang tanpa ijin. Anak Saya mulung untuk merawat Saya selama sakit. Meski kami nggak punya apa-apa, namun kami masih bisa berusaha. Mungkin Ibu salah orang.” ”Tapi Ibu bisa lihat. Roti ini dibawa oleh anak Ibu. Kalau tidak mencuri, mengapa tadi lari menghindari kami?” ”Sumpah Budi tidak mencuri. Roti ini pemberian Mbak, Mbak ....” ”Mbak siapa? Alasan! Mana buktinya?” Budi menangis sambil memeluk tubuh ringkih ibunya. Sang ibu pun tak bisa menahan air mata. Beberapa pasang mata menatap geram ke arah wanita pemilik roti. ”Tenanglah, Nak. Ibu percaya Kamu bukan pencuri.” ”Assalamu’alaikum, maaf Bapak-bapak, Ibu-ibu ....” Seorang wanita berkerudung putih menyeruak kerumunan. Dia masuk sambil membawa sekotak roti. ”Maaf, Bu. Anak ini bukan pencuri. Ingat kan tadi pagi Saya membeli roti di toko Ibu?” Wanita pemilik roti menatap wanita berkerudung itu sambil mengingat-ingat sesuatu. Kemudian dia mengangguk. Rupanya dia adalah salah satu pelanggannya. “Saya mau meluruskan saja. Anak ini tidak mencuri. Justru dia yang menemukan dompet Saya di jalan, lalu mengembalikannya. Saya yang memberi roti itu sebagai tanda terima kasih.” ucapnya sambil menyodorkan sekotak roti untuk Budi. ”Huuu makanya jangan langsung main tuduh, Bu.” teriak warga setelah mendengar penjelasan wanita berkerudung. ”Maafkan kami yang terlalu gegabah menilai anak Ibu,” ucap Pak Satpam sambil memohon diri. Kemudian warga pun bubar. ”Maafkan Saya, Bu,” kata wanita pemilik roti itu sambil tertunduk malu. Budi dan ibunya menyambut tangan wanita itu sambil tersenyum. ”Sudahlah, Bu. Allah saja Maha Pemaaf. Kami memaafkan Ibu kok.” (Jangan menilai sesuatu hanya dari kulit luarnya)



from http://ift.tt/1DX8iOc

0 komentar:

Posting Komentar