Minggu, 05 April 2015

Buya Khalid

DI MANA TANGGUNGJAWABMU? Buya Khalid "Jus apa, Mas?" "Sirsak dua, bungkus!" "Oke!" Baru selesai aku bayar uangnya, tiba-tiba sebuah teriakan terdengar. "Mana motor saya?" Mendengar suara ini sontak aku serta beberapa orang menghampirinya. Laki-laki gendut dengan pakaian rapi, usianya sekitar 50 tahun-an. Kedua tangannya ia taruh di atas kepala. Matanya jelalatan mencari motor yang hilang. Lelaki ini berjalan ke sana ke mari sambil sesekali menghampiri deretan motor. Melihat plat nomor, kemudian berlalu. Begitu seterusnya. "Sial, Motor saya hilang!" ujarnya dengan mimik yang menyedihkan. "Ini gimana, Pak Jukir? Motor saya kok bisa hilang?!" tanya-nya pada seorang lelaki tua berseragam rompi warna merah dengan tulisan di belakang 'JURU PARKIR', 'TEGAKKAN DISIPLIN'. "Lho, Bapak tadi naruh sepedanya di mana?" Pak Jukir balik bertanya. "Lha, saya naruh motornya di sini?" Tunjuk tangannya ke suatu tempat. "Mana saya tahu, Pak! Tadi waktu parkir ada saya, enggak?" Kejar tanya Pak Jukir. Lelaki gendut itu menggeleng. "Tapi kan daerah ini tanggung jawab, Pean?" "Itu benar. Tapi kan tadi saya tidak melihat Bapak naruh sepeda motor?" Dengan kesal, lelaki itu mengambil sebuah HP, kemudian terlihat sedang menghubingi seseorang. "Halo? Mama, tolong jemput aku di alun-alun!" Kembali HP itu ia taruh. "Pak Jukir, bagaimana pun ini tanggungjawab, Pean!" Tangannya sambil menunjuk. "Jangan harap Pean bisa lari dari tanggungjawab ini, saya akan laporkan ke pihak berwajib!" Mendengar ini Pak Jukir mulai merasa takut. Nyali yang sedari tadi ia kumpulkan tiba-tiba menciut. Tatapannya yang garang mulai berubah. Rokok yang sejak semula masih dihisapnya terjatuh seketika. Ditambah lagi dengan perkataan dari beberapa orang sekitar yang sepertinya membela bapak gendut. Pak Jukir makin terpojok. Ia lunglai, duduk di tanah bersandar pada pohon besar. Melihat ini seorang laki-laki lain datang. Ia memberi minuman padanya. Tak lama kemudian lirih terdengar suara sesenggukan. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil Fortuner putih keluaran terbaru datang. Seorang wanita baya dengan dandanan yang sederhana datang menghampiri lelaki gendut itu. Setelah lama terjadi pembicaraan, bapak itu datang menghampiri Pak Jukir. "Maafkan kalau ada kata-kata saya yang kasar!" ucapnya. Semua diam, mereka menunggu reaksi dari Pak Jukir. Tapi setelah beberapa menit tak ada kata-kata yang terucap. "Baiklah, dengarkan saya! Jujur bagi saya motor itu tak ada harganya. Hari ini juga saya bisa beli yang baru. Tapi tolong jawab pertanyaan ini, dimana tanggungjawabmu?" lanjutnya. Setelah berkata demikian pria gendut itu berlalu dengan mobilnya. Tak lama kemudian isak tangis terdengar dari Pak Jukir. Aku yang melihat ini semua hanya bisa terdiam. Selama ini sikap jukir di sini memang agak menyebalkan. Mereka bekerja hanya saat ada yang hendak memarkir atau keluar parkiran. Setelah itu hanya duduk. Bahkan beberapa kali kejadian seorang juru parkir memaksa seseorang untuk membayar biaya parkir. Padahal di sekitar alun-alun tak ada tempat khusus parkir. Lahan yang digunakan adalah lahan jalan umum. Selain itu dalam parkir tak ada tanda sewa antara juru parkir dengan pengendara. #Dolala



from http://ift.tt/1aypoXt

0 komentar:

Posting Komentar